“
Ketika
kapal
kandas
tikus
dan
kecoaklah
yang
pertama
pergi ”
Tulisan
ini
merupakan
bagian
kedua
dari
tulisan
“Wawancara
Exclusive
Dengan
Bapak
Iwan Gunawan”.
Pada
tanggal
27 Mei
2010
Bapak
Iwan
Gunawan
menceritakan
penilaiannya
tehadap
Pak
Hasan
Karman
melalui
koran Pontianak Post dengan judul berita ‘Walikota
Tuding
Iwan
Terlibat’.
Pemberitaan
Pak Iwan
melalui
media
cetak
itu
merupakan”the
best
show in
town’
bagi
masyarakat
Singkawang.
Sebagian
besar
masyarakat
Singkawang
berpandangan
sama
dengan
Pak Iwan
dalam
hal
penilaian
terhadap
gaya
kepemimpinan
Pak
Hasan
Karman.
Mengapa
pada
saat
masyarakat
mempersoalkan
makalah
Pak HK;
Pak
Iwan
mengkritisi
Pak HK
dengan
vulgar
bahkan
terkesan
“mengadili”
pak HK
melalui
koran ?
Mengapa
pak Iwan
memilih
timing
yang
tepat
untuk
mengekpose
hal ini?
Faktor
apa yang
mendorong
Pak Iwan
membuat
demikian?
Apakah
motivasi
Pak Iwan
?
Marilah
mengikuti
analisa
Cintasingkawang
dibawah
ini:
Iwan
Gunawan
adalah
pengusaha
muda
yang
bergerak
di
bidang
percetakan
dan
walet di
Singkawang.
Disamping
sebagai
pengusaha
juga
berkecimpung
di dunia
politik
praktis
dan
ormas.
Karier
didunia
politik
dia
pernah
menjabat
DPD
Partai
Golkar
(PG)
Kota
Singkawang,
di Ormas
pernah
menjabat
ketua
FOKET.
Bisnis
utama
Pak Iwan
adalah
Walet
disamping
itu juga
pernah
menjadi
suplier
rekanan
Pemkot
Singkawang.
Deal
bisnis
dengan
birokrasi
maka Pak
Iwan
dikenal
oleh
kalangan
birokrasi.
Didalam
bisnis
dengan
kalangan
birokrasi
Pak Iwan
sempat
membina
persahabatan
dengan
pejabat,
salah
dari
sahabatnya
adalah
mantan
wako
Singkawang,
Pak
Awang.
Dalam
pergaulan
sosial
Pak Iwan
berteman
akrab
dengan
Pak Lio
Kurniawan
atau
yang
lebih
dikenal
dengan
panggilan
Pak
Aliok,
Pak HK
dan dan
tokoh “unik”
Bong Li
( Benny
Setiawan).Sama
halnya
dengan
nama-nama
diatas
Pak Iwan
Gunawan
juga
adalah
pengemar
setia
event
kesayangan
segelintir
elit
Singkawang
yaitu
Cap Go
Meh dan
juga
penggemar
setia
patung
Naga.Yang
hari ini
menjadi
bencana
bagi
masyarakat
Singkawang.
Dalam
pengalaman
hidup
nyata
Pak Iwan
lebih
dahulu
merasakan
nikmatnya
berbisnis
dengan
birokrasi
dibandingkan
dengan
Pak HK.
Sedang
Pak
Aliok
sedang
menyusul
kearah
kesana.
Pak Iwan
lebih
dahulu
mengenal
dunia
birokrasi
dibandingkan
Pak HK.
Sejak
sesudah
acara
CGM 2010
hubungan
Pak Iwan
dengan
Pak HK
sudah
mulai
menunjukkan
tanda –tanda
tidak
serasi
dan
tidak
harmonis.
Karena
Pak Iwan
merasa
kelompok
ini
sudah
menjadi
beban
baik
sosial
maupun
politis
apalagi
beban
kantong
juga
bias-bisa
menjadi
sapi
perahan
untuk
menutup
defisit
acara
CGM 2010
itu.
Sebagai
seorang
pengusaha
Pak Iwan
memakai
perhitungan
dagang
untuk
mengkalkulasi
untung
rugi
bersahabat
dengan
Pak HK.
Menurut
hasil
perhitungan
Pak Iwan
lebih
banyak
buntungnya
daripada
untung.
Sebaliknya
menurut
pandangan
Pak HK ;
Pak Iwan
terlalu
perhitungan
dalam
persahabatan
mereka.
Sehingga
Pak HK
mengirim
sms
kepada
Pak Iwan
untuk
menasihati
Pak Iwan
bagaimana
cara
bersahabat
dengan
gaya “Singkawang
Spektakuler”dengan
perkataan
lain Pak
Iwan
diminta
untuk
mengubah
tabiat
sifat “minyak”
menjadi
“air”.
Rasa
frustrasi
Pak Iwan
diungkapkan
kepada
masyarakat
ketika
melayat
keluarga
Lay di
Sakkok.
Kata Pak
Iwan”
Pak HK
memperlakukan
teman ‘habis
manis
sepah
dibuang’
“.
Beberapa
minggu
kemudian
Pak HK
mengumumkan
tentang
perizinan
rumah
walet.
Pak Iwan
sebagai
ketua
Asosiasi
Pengusaha
Walet
Singkawang
(APWS)
merasa
peraturan
tersebut
seperti
dia
ditikam
dari
belakang
oleh
temannya.
Pada
tanggal
27 Mei
2010 Pak
Iwan
menyerang
Pak HK
melalui
koran.
Mengapa
Pak Iwan
berbuat
demikian
? Ada dua kemungkinan:
-Pertama:
Menurut
perhitungan
Pak Iwan
bahwa
Pak HK
sudah
merupakan
kartu
mati,
karena
ditinggalkan
oleh
pendukungnya
dan
elite
komunitas
Tionghoa
Singkawang
di
Jakarta.
Kalau
didukung
terus
lebih
banyak
rugi
daripada
benefit.
Deal
bisnis
dengan
Pak HK
semakin
susah
dan
bersyarat.
Tanda-tanda
dukungan
kepada
pemerintahan
Pak HK
sudah
lemah
pertanda
HK akan
cepat
jatuh
apalagi
di
lapangan
telah
tejadi
pergeseran
pergaulan
HK
cenderung
turun
kelas
dari
kelas
Tetiono
dahulu
malah
kini HK
praktis
hanya
ditemani
oleh Lo
Chu dan
kawan-kawan.
Apa bila
terjadi
suksesi
kepemimpinan
di
Singkawang
berarti
ada
peluang
baru dan
deal
bisnis
dengan
boss
baru
jauh
lebih
mudah,
daripada
dengan
Pak HK.
Pada
saat ini
Pak Iwan
dan Pak
Budiman
Chang
memiliki
pandangan
yang
sama
dalam
satu hal;
tidak
akan
mendukung
pemerintah
Pak HK
lagi .
Karena
mereka
berdua
diperlakukan
sebagai
“sepah”
oleh Pak
HK.
-Kedua:
Bisa
saja Pak
Iwan
berbuat
demikian
karena
mendapat
masukan(nasehat)
dari
teman-teman
dilingkungan
birokrasi
bahwa
sudah
saatnya
meninggalkan
Pak HK.
Dari
pihak
yang
sangat
memahami
perkembangan
politik
di
Singkawang
atau
teman
dekatnya
seperti
Pak
Awang.
Kalau
Pak Iwan
tidak
cepat
meninggalkan
Pak HK
dia akan
kena
akibat.
Pak Iwan
ini juga
ditugaskan
sebagai
pesulap
untuk
sebuah
show
kepada
komunitas
Tionghoa
Singkawang.
Dalam
pikiran
Pak Iwan,
kalau
terus
mendukung
Pak HK
berarti
dirinya
akan
kehilangan
peluang
menjadi
pejabat.
Karena
ada
kemungkinan
kedepan
Pak Iwan
akan
diminta
oleh
pihak
tertentu
untuk
menemani
pilkada
mendatang,
akan
dicalonkan
sebagai
wawako
Singkawang.
Ketika
Pak
Aliok
membaca
komentar
Pak Iwan
di koran,
Pak
Aliok
menjadi
marah
dan
menyalahkan
Pak Iwan.
Dalam
pertemuan
dengan
Kapolres
Singkawang
di City
Walk
Jakarta
Pak
Aliok
mengatakan
tidak
pantas
mengiritik
Pak HK
secara
terbuka.
Perbedaan
pandangan
yang
sangat
fundamental
antara
Pak
Aliok
dengan
Pak Iwan
terhadap
Pak HK.
Bagi Pak
Iwan
;Pak HK
gagal
membangun kota Singkawang, mempermalukan komunitas
Tionghoa
Singkawang
dalam
hal
makalah
sudah
pantas
diganti.
Sedangkan
bagi Pak
Aliok;
Hasan
Karman
masih
berharga
selama
memberi
kesempatan
mendapat
tanah
murah
dan
mudah di
Singkawang
dan
bersedia
diperalat
oleh
rekan-rekan
sesama “Kalibers”nya
dalam
urusan
mafia
tanah .
Kepergian
Pak Iwan
dari
lingkungan
Pak HK
akan
mempengaruhi
dukungan
Pak HK
di
Singkawang.
Tidak
menutup
kemungkinan
banyak
akan
mengikuti
jejaknya
Pak Iwan.
Karena
mereka
ingin
menyelamatkan
diri
lebih
awal
sebelum
kapal HK
kandas.