Menjelang Pemilihan ketua Forum Komunikasi Etnis Tionghoa (FOKET) Singkawang.

28 Agustus 2011

Komentar:

Sejak berdirinya Forum Komunikasi Etnis Tionghoa (FOKET) yang katanya untuk komunitas Tionghoa Singkawang, organisasi ini tidak banyak berbuat hal yang berarti dan bermanfaat untuk komunitas  Tionghoa Singkawang. Hampir tidak ada kegiatan organisasi, program kerjanya tidak jelas alias organisasi “papan nama doang”. Cuma pada  saat ada kegiatan Cap Go Meh dan menjelang Pilkada Singkawang, Foket menjadi barang berharga bagi segelintir elit Singkawang.

 

Ada segelintir orang beranggapan apabila dia bisa menguasai FOKET berarti dia mendapat dukungan suara dari mayoritas  komunitas Tionghoa Singkawang. Kebenaran dari anggapan seperti itu tidak didukung oleh bukti dan fakta yang ada dilapangan.  Karena dalam pengertian komunitas Tionghoa Singkawang  terhadap“dukungan”adalah sesuatu yang berorientasi keuntungan materi. Memberi “dukungan” berarti  harus ada sesuatu yang bersifat  imbalan, itu formula umum yang dipakai oleh sebagian besar komunitas  kita. Tetapi, ada juga orang menilai sesuatu berdasarkan prinsip-prinsip yang dianutnya tanpa berdasarkan faktor keuntungan ekonomi sebagai persyaratan utama. Sejauh ini FOKET belum banyak  memberi kontribusi yang berarti  kepada komunitas Tionghoa Singkawang. Bagaimana mungkin mereka mengklaim mewakili komunitas Tionghoa Singkawang ???

 

Sejak September 2006 Pak Hasan Karman alias Bong Sau Fan menaruh perhatian besar terhadap FOKET. Karena FOKET dapat dimanfaatkan  untuk kepentingan politik untuk  kepentingan pribadi Pak HK, bukan untuk  kepentingan organisasi FOKET itu sendiri yang bertujuan memajukan komunitas kita. Kalau Pak HK benar konsen terhadap FOKET, apa yang telah diperbuatnya untuk FOKET selama Pak HK menjabat wako Singkawang? Atau kontribusi apakah yang telah diberikan oleh Pak HK kepada FOKET ? Paling-paling sumbangan sebesar Rp.10 juta menjelang Pilkada yang lalu ketika Pak HK membutuhkan Pak Budiman yang  hendak Mengkudeta Pak Kenny Kumala yang vokal ketika Pilkada yang lalu.  Kita  tidak pernah mendengar ada  kuncuran dana dari pemkot Singkawang  atau penggalangan dana ataupun apa saja saja yang telah dilakukan Pak HK  untuk FOKET supaya organisasi ini dapat berfungsi yang dapat memberi pelayanan sosial kepada komunitas kita yang memerlukannya. Bahkan tokoh Pendirinya yaitu Pak Kenny Kumala yang berteriak kemana-mana  hanya dapat Rp.4 juta itupun melalui cara mengemis ke belbagai kalangan. Apa pedulinya Kanjeng Hasan Karman??? 

 

Pada malam tanggal 24 Agustus 2011 bertempat di rumah makan di jalan Diponegoro dalam pertemuan pemilihan ketua FOKET Pak HK berkeinginan mencalonkan dirinya sebagai ketua FOKET untuk periode 2011-2016. Yang kemudian mendapat perlawanan keras  dari Bapak Iwan Gunawan, Kenny Kumala dan Bpk. Budiman{mantan Team Sukses HK }. Menurut Pak Iwan bahwa Pak HK tidak memenuhi persyaratan yang sesuai dengan RT/AD organisasi FOKET, ketua FOKET harus dipilih dari  pendiri/pengurus  FOKET. Sedangkan Pak HK bukan pendiri atau pengurus FOKET. Walaupun Pak HK mengatakan dirinya cukup sibuk sebagai wako Singkawang tidak ada niat mengurus FOKET, tetapi kedua German Shepherd yaitu kedua  Bong Hiong co siau se yakni Bong Cin Nen dan Bong Li Thiam  terus menerus menggongong untuk kepentingan tuannya. Mereka ini mempertanyakan mengapa Pak HK tidak boleh  menjabat sebagai ketua FOKET sedangkan banyak pejabat pemerintah dari etnis lain boleh merangkap sebagai ketua organisasi etnis mereka. Jika mau mengambil contoh dari etnis lain, ada pertanyaan perlu mendapat jawaban terlebih dahulu. Yakni: Apakah organisasi keetnisan yang ketuanya dijabat oleh pejabat pemerintah sudah maju dan efisien? Nyatanya  tidak ! Ternyata organisasi keetnisan mereka tidak maju bahkan tidak ada nilai demokrasi. Mengapa kita komunitas Tionghoa Singkawang harus mengikuti jejak mereka yang telah terbukti gagal itu? Atau komonitas Tionghoa Singkawang itu harus “menyontek” etnis lain? Atau Pak HK yang memang memiliki kebiasaan “Menyontek “ yang menurut beberapa koleganya di  SMA  Kolesze Santo Yusup - Malang  sebagai tukang nyontek??? Sudah sepantasnya kita jangan mencontohi sistem mereka yang gagal dan tidak menumbuhkan nilai demokrasi.

Kita tidak keberatan jika Pak HK ingin menjabat ketua FOKET asalkan Pak HK  bersedia melepaskan jabatannya sebagai wako Singkawang terlebih dahulu. Dengan demikian komunitas Tionghoa Singkawang akan percaya bahwa dia menjabat ketua FOKET tidak ada kepentingan politik.

Bersediakah Pak HK  menerima tantangan ini? Kalau berani melepaskan jabatan wako demi FOKET. Tentu saja Bapak Iwan Gunawan, Kenny Kumala dan Budiman akan memikirkan “pengecualian” pada RT/AD organisasi FOKET supaya Pak HK memenuhi persyaratan.

Hai Ya! kali ini Pak HK bebar-benar kejeblos makanya Pak HK hati-hati dengan orang yang suka “Senior”(senang istri orang) dan penasehat yang senang exploitasi amoy-amoy Singkawang akibatnya begini jadinya ….hehehehe   

 

CintaSingkawang, 28 Agustus 2011