Usaha Untuk Memalukan Diri Sendiri

    
09 Oktober 2010

Komentar:

Film India berjudul Slum dog millionaire berhasil menang beberapa piala di pelbagai event penghargaan film, salah satu diantaranya yaitu piala bergenggsi bagi dunia perfilman Piala Oscar. Direktor film ini bernama Danny Boyle,  warganegara Inggeris. Film ini mengisahkan kehidupan masyarakat India yang tidak beruntung itu. Hidup dalam ‘evil society’ rawan eksploitasi antara golongan kaya terhadap miskin, lelaki mengeksploitasi  kaum wanita, orang dewasa mengeksploitasi anak-anak. Walaupun film ini menang beberapa piala bergengsi dalam dunia perfilman, tetapi film ini tidak  popular di negara India. Bahkan bangsa India tidak mau menonton film tersebut. Karena mereka merasa dihina, realitas kehidupan masyarakat mereka yang tidak beruntung itu menjadi bahan lelucon oleh penonton di negara Barat. Pemberian penghargaan terhadap film tersebut adalah  usaha mengobyekan film itu sebagai bahan lelucon yang  menunjukkan keterbelakangan bangsa India.

Lain dengan cara bangsa Amerika menunjukkan kehebatan  mereka melalui film. Sekedar contoh film ‘Rambo’. Walaupun bangsa Amerika sudah dua kali kalah perang dengan negara Asia, perang Korea dan Vietnam. Tetapi dalam film Rambo tidak menunjukkan mereka kalah dalam peperangan. Mengapa ini bisa terjadi? Mungkin Anda bertanya? Karena  orang Amerika memiliki SDM dan modal mereka dapat memproduksi film yang dapat mengangkat martabat mereka, dan film yang sesuai dengan keinginan mereka.

Bagaimana dengan orang Singkawang ? Apakah film dapat mengangkat martabat komunitas Tionghoa Singkawang? Sejauh ini, ada beberapa film mengambil lokasi shooting di Singkawang. Inti dari jalan cerita semua film itu sama, yaitu cerita Amoi-amoi Singkawang dieksploitasi. Kita tidak menyangkal ada  sebagaian dari komunitas kita Tionghoa Singkawang mengalami kesulitan dalam kehidupan mereka. Ada kemungkinan  kondisi mereka ini mudah dijadikan mangsa untuk dieksploitasi, dijadikan ‘human trafficking’. Supaya mereka tidak  dieksploitasi oleh pihak tertentu kita harus melakukan usaha untuk memperkuat komunitas kita melalui pembinaan SDM, dan perlindungan hukum. Bukan sebaliknya memanfaatkan kemalangan mereka untuk mencari populeran diri sendiri yang dilakukan oleh Bong Li Thiam dan Pak Hasan Karman. Sebagai wako Singkawang sudah merupakan kewajiban Pak HK memikirkan nasib mereka yang tidak beruntung itu, jangan hanya menginginkan suara mereka baru memikirkan nasib mereka. Memperlakukan mereka secara terhormat dan menghargai mereka sebagai komunitas kita, bukan  kondisi mereka dijadikan bahan hinaan. Dimanakah rasa nilai prikemanusiaan kita??

Pada saat ini di Singkawang  sedang shooting film ‘Bakpao Ping Ping’. Mungkin kita sudah jenuh dengan film yang dilakoni oleh Bong Li Thiam bertopik eksploitasi kaum wanita dari komunitas Tionghoa Singkawang. Padahal film yang bertopik Amoi Singkawang adalah cerita murahan tidak mendidik,bahkan cenderung memperlemah para feminis Singkawang.  Memperlakukan kaum wanita kita secara tidak adil, seakan-akan semua Amoi Singkawang  bisa dijadikan obyek pelecehan seksual, kota Singkawang dijadikan destinasi plesiran seksual. Ini merupakan stereotype negatif dirancangan dari pihak tertentu untuk mempermalukan komunitas Tionghoa Singkawang yang menunjukkan ketidakmampuan kita membangun komunitas yang lebih maju melalui film mereka.   

Kita ingin film bertopik “Wako Tionghoa Singkawang’ yang dilakoni oleh Bong Li Thiam  sebagai Pak Wako. Di dalam film ini dikisahkan wako  pertama bersujud di depan anak SMP disaksikan oleh Sultan se KalBar. Film ini akan menjadi bahan lelucon bagi kita seperti film India Slum dog millionaire menjadi bahan lelucon bagi orang Bule, atau Bong Li Thiam berperan sebagai pecandu narkoba dalam Film jaringan narkoba Singkawang yang bisa dijadikan media untuk membantu pemerintah dalam memberantas narkoba.

 
CintaSingkawang, 09 Oktober 2010