Donasi Rp 500 juta untuk CGM 2010  di “hijack”?

11 Maret 2010

Komentar:

Ketika CGM 2010 sedang berlangsung, pada elite komunitas Tionghoa Singkawang  di Jakarta mengirim teamnya melakukan “operasi khusus” untuk menggagalkan  Lelang panitia resmi CGM 2010( sering disebut panitia CGM  SK).Operasi yang sangat rahasia ini diberi kode  ”FPC”(Front Pembela Chinese) .

 

Masyarakat di kota Singkawang bertanya-tanya dan heran melihat fenomena yang aneh  sedang terjadi. Mengapa orang-orang Permasis melakukan lelang besar-besaran di stand(altar) Bong Wui Kong dan Chai Ket Kiong? Itulah pertanyaan mereka yang ingin mendapatkan jawaban.   Padahal kedua stand tersebut tidak ada hubungan sama sekali dengan Permasis.

Sepengetahuan masyarakat di Singkawang, kedua altar itu tidak pernah mendapat perhatian sejak Pak Hasan Karman menjabat wako Singkawang. Bahkan mereka itu dianggap altar bandel  tidak mau diatur, dituduh menghalangi kemajuan kota Singkawang dari sektor pariwisata.

Masyarakat dari komunitas Tionghoa Singkawang di Singkawang masih belum mengetahui bahwa  proses deHKnisasi dan deAlioknisasi sedang terjadi, kasarnya secara pelan-pelan Hasan Karman dan Lio Kurniwan alias Aliok telah ditinggalkan oleh para elite komunitas Tionghoa Singkawang  di Jakarta. Bukti ini sangat jelas, gagal lelang barang  dari altar panitia resmi CGM2010 . Kegagalan ini merupakan  “tragedi”  bagi Pak Hasan Karman secara politis dan Pak Aliok secara sosial beserta konco-konconya. Dalam benak Pak Hasan Karman tidak pernah membayangkan mengapa hal seperti itu  terjadi ? Tetapi, bagi  Bong Wui Kong dan Chai Ket Kiong dan pendukung mereka peristiwa seperti itu  merupakan” angin perubahan” dari para elite komunitas Tionghoa Singkawang  di Jakarta terhadap permasalahan yang ada di kota Singkawang.

 

Sesuatu perubahan pandangan sedang terjadi diantara para elite komunitas Tionghoa Singkawang   di Jakarta.  Hal ini sangat jelas ditegaskan oleh konglomerat yang kharismatik, Bapak Prajogo Pangestu ketika dalam acara peresmian kantor sekretariat Permasis di Jakarta, pada tanggal 21 Februari 2010 yang lalu. Beliau menegaskan lagi kepada komunitas Tionghoa Singkawang bahwa Permasis bukan tempat untuk mencari kedudukan ,kekuasaan apalagi kekayaan, akan tetapi Permasis merupakan tempat bagi mereka yang ingin melakukan karya suci dan mulia.

Penegasan ini merupakan sebuah teguran kepada mereka yang pada masa lalu  pernah membawa Permasis ke arah perjalanan yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Pak Hasan Karman sebagai tamu dalam acara tersebut tentu saja sangat memahami makna dan filsafat  yang terkandung  dalam teguran dari Pak Prajogo itu.

 

Dalam acara itu Pak Prajogo menyerahkan donasi Beliau sebesar Rp 1miliar,Rp500juta untuk Permasis dan Rp 500 juta untuk yayasan Bumi Khatulistiwa. Yang mana rencana semula Rp 500juta yang diberikan untuk yayasan Bumi Khatulistiwa itu seharusnya untuk panitia CGM 2010 Singkawang. Tetapi sesudah dilakukan kajian lebih mendalam manfaat dari CGM, Bapak.Prajogo Pangestu  menerima rekomandasi dari senior-senior di Permasis lebih baik donasi tersebut diberikan kepada yayasan Bumi Khatulistiwa yang akan memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan masyarakat daripada untuk Pak Hasan Karman,  Pak Aliok dan konco-konconya berpesta kesukaan mereka CGM  yang saban tahun menimbulkan persoalan sosial .Akhirnya, pihak panitia CGM 2010 Singkawang terpaksa harus gigit jari.

Spetakuler gigit jari, nih yee!!!

 

 

Dalam kehidupan dunia demokrasi memang tidak ada larangan terhadap  individu yang memiliki ambisi politik ( dalam pengertian ingin menjadi pejabat). Tetapi kita tidak ingin ambisi perseorangan itu dijadikan sebagai ambisi seluruh komunitas (kominitas Tionghoa Singkawang). Dari segi pandang politik, ada dua type calon pemimpin:pemimpin yang memakai komunitasnya untuk memperjuangkan ambisi pribadinya. Sedangkan type pemimpin kedua yaitu pemimpin memahami permasalahan yang dihadapi komunitasnya. Dengan bahasa sederhana, type pemimpin pertama memakai komunitasnya untuk mencapai kepentingan ambisi pribadi. Sedang type pemimpin kedua yaitu dia siap dipakai oleh komunitasnya untuk melayani kepentingan komunitasnya.

Sejauh ini kita masih belum menemukan pemimpin type kedua di dalam komunitas kita, pemimpin yang  bersedia melayani kepentingan komunitas Tionghoa Singkawang.

 

 

CintaSingkawang, 11 Maret 2010