Komentar:
Proses
Pemilihan
Apabila kita disuruh menentukan pilihan
terhadap sesuatu jika tanpa ada petunjuk
atau pedoman, kita sering membuat
kesalahan dalam mengambil keputusan
untuk menentukan pilihan yang terbaik.
Kesalahan dalam mengambil keputusan
terhadap sesuatu masalah bisa terjadi
karena disebabkan kekurangan pengetahuan
kita terhadap masalah yang sedang kita
hadapi. Akibat dari kesalahan dalam
mengambil keputusan dapat merugikan kita
dan orang lain, kesalahan
semacam itu sering kali harus dibayar
dengan harga mahal.
Katakanlah seperti komunitas
Tionghoa Singkawang dalam
mempersiapkan calon wako Singkawang pada
Pilkada 2007 yang lalu. Tanpa ada konsep
atau mekanisme cara memilih atau seleksi
calon untuk mewakili
komunitas Tionghoa Singkawang menghadapi
Pilkada. Tanpa ada konsep dapat
menyebabkan pada para
pengambil keputusan memungkinkan
mereka membuat kesalahan dalam
hal menentukan bakal calon (Balon).
Sehingga hasil pilihan(seleksi)
mereka itu dapat merugikan masyarakat
Singkawang khususnya komunitas Tionghoa
Singkawang. Kalau ini terjadi, siapakah
yang harus bertanggungjawab? Kalau
ada pedoman sebagai pegangan dapat
meminimalisasi membuat kesalahan atau
dapat memperkecil
resiko membuat kesalahan daripada tidak
ada pedoman sama sekali.
Paling tidak ada dua hal yang
harus ada pedoman/petunjuk
untuk mereka
sebagai pengambil keputusan memilih pada
para bakal calon yaitu:
-Persyaratan
Calon.
Para calon harus memenuhi beberapa
persyaratan dan cek karakter; misal
dalam persyaratan kejujuran, pendidikan,
tidak terlibat dalam kriminilitas pidana
ataupun perdata, amoral dll.
-Mekanisme
mengontrol calon
Bagaimana mekanisme
mengatur pada calon jika yang
bersangkutan terpilih.
Mengapa kita perlu
memiliki petunjuk sebagai pedoman dalam
pemilihan(seleksi) calon untuk dijadikan
kandidat? Jika tanpa ada petunjuk bisa
saja terjadi calon yang
kita pilih itu memiliki kelemahan,
katakan saja dalam berkarakter
yang’tidak jujur’. Tidak jujur ini bisa
terjadi dalam hal keuangan, misal
menerima dana sumbangan kampanye tanpa
dilaporkan(diumumkan) kepada team sukses.
Kalau ini terjadi berarti para pemilih(orang-orang
yang menentukan siapa yang dicalonkan
sebagai kandidat) memilih calon berwatak
korupsi atau memanfaatkan posisi dia
sebagai kandidat untuk
memperkaya diri dengan cara tidak sah.
Memang, dalam hal menyangkut kejujuran
memang sulit dinilai namun perlu ada
sebuah mekanisme yang dapat mengatur
akan hal ini sehingga para calon tidak
memiliki peluang berbuat kecurangan (ketidakjujuran),
dan calon tidak dimanfaatkan oleh pihak
tertentu untuk mencari keuntungan.
Ketidakjujuran intinya
akan merugikan kepercayaan komunitas (para
donatur) terhadap kandidat kita.
Mari kita melihat
lebih dekat mengenai: mengapa penting
memiliki mekanisme yang dapat mengatur
pada calon jika pasca terpilih? Betapa
berbahayanya apabila orang yang kita
promosikan dan kita pilih menjadi
kandidat itu kemudian dia sukses tampil
sebagai pemenang, sesudah dia duduk di
posisi kepemimpinan kemudian dia berubah
menjadi Pol Pot ( pemimpin Khmer merah
pertengahan tahun 1970an,
jutaan rakyat Kamboja dibantai
oleh rezim Pol Pot. RRT memberi
dukungan kepada Rezim
Khmer Rouge tetapi gagal
mengontrol Pol Pot).
Jika
ini terjadi, bagaimana cara menurunkan
calon yang mewakili komunitas kita itu?
Kita jangan hanya bisa mempromosikan
atau menaikkan dia tetapi harus ada
mekanisme untuk bisa menurunkannya,
itulah prosedur yang diperlukan oleh
pada elite Tionghoa Singkawang bagi
mereka sebagai pengambil keputusan.
Kita
boleh memberi dukungan tetapi jangan
sampai dukungan kita itu dipakai sebagai
senjata yang dapat membahayakan
kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Yang intinya
merugikan berbagai pihak.
Ketika
para elite Tionghoa Singkawang di
Jakarta memutuskan dan menentukan
Balon
wako
Singkawang pada Pilkada 2007 yang lalu.
Mereka mendiskusikan masalah bursa calon
di cafe lounge dan di rumah makan.
Akhirnya mereka mengambil keputusan
dan menentukan dua orang
kemudian dipilih salah satu dari mereka
menjadi cawako Singkawang, yaitu Pak
Hasan Karman dan Pak Aliok(Lio Kurniawan).
Sebagian dari pendiri Permasis
mendukung Pak Aliok
sebagai calon
wako Singkawang pada Pilkada 2007.
Karena pada waktu itu Pak Aliok sebagai
ketua Permasis, sedang
masa jayanya Pak Aliok. Tetapi,
Pak Aliok kemudian tereliminir kemudian
kesempatan itu diberikan kepada Pak HK.
Ada
beberapa alasan(pertimbangan) yang
mendasari kejadian
itu.yaitu:
- Aliok tidak memiliki basis
politik yang kuat baik di kepartaian
maupun akar rumput massa .
-Masalah
sekolah
STIE Mulia.
Resiko apabila Beliau menjadi cawako
2007 karena STIE Mulia sedang menghadapi
masalah perizinan pada waktu itu. Pak
Aliok tanpa memiliki
izin mengoperasikan STIE Mulia,
mengoperasikan sekolah tanpa izin
adalah pembuatan melangggar hukum.
Pemerintahan Pak Awang pada waktu itu
sedang
mempermasalahkan
sekolah tidak memiliki izin. Perizinan
Pak Aliok untuk STIE Mulia tersangkut
ditingkat provinsi( Banjarmasin),
walaupun Pak Aliok mengurus izin di
pusat(Jakarta)
tidak berhasil. Kekhawatiran jika Pak
Aliok dicalonkan sebagai cawako pihak
lawan politik akan memberi tekanan
masalah perizinan STIE Mulia. Sekolah
STIE Mulia adalah sebuah investasi bagi
Pak Aliok, mesin untuk mencari donasi .
Karena Pak Aliok tereliminir Pak Aliok
kemudian banting stir berharap posisi
lebih bergensi yaitu Wakil Gubernur
Kalbar,namun lagi-lagi Aliok tereliminir
dari bursa Kandidat KB 2 karena Pak
Cornelis sudah kepincut dengan Bong Hon
Sen,disamping itu lobby-lobby Aliok di
kalangan Pontianak gagal mendekati team
Cornelis.
Para elit Singkawang di Permasis,
akhirnya memutuskan kesempatan
ini diberikan kepada Pak HK. Pencalonan
Pak HK menjadi cawako 2007 bukan berarti
tidak menghadapi masalah. Terutama
ketika meminta dukungan dari Pak Prajogo
Pangestu (Phang Jun Pheng).
Konglomerat asal Singbebas ini
mempertanyakan keterlibatan Pak HK
bersekongol dengan
Seventien Lunardy Alias A Tien dalam
skandal di perusahaan Barito Pacific
group pada tahun 80an itu. Pada
prinsipnya Pak Prajogo tidak akan
memberi dukungan kepada mereka yang
pernah merugikan korporasinya dan merusak
reputasi Beliau. Karena apabila memberi
dukungan kepada mereka berarti
menganggap mereka tidak bersalah kepada
Beliau. Mereka yang pernah bersekongol,
berkolaborasi
dengan A Tien,
dianggap seperti barang yang sudah
terkontaminasi dengan bahan berbahaya.
Barang tersebut tidak bisa dipakai atau
didaur ulang lagi. Rasa
kejengkelan Pak Prajogo dapat kita paham
dalam skandal A Tien di perusahaan
Barito itu.
Dalam kehidupan korporasi harus
berprinsip seperti struktur kehidupan
koloni lebah. Jika sarang lebah diserang
oleh pihak lain (dari luar). Tindakkan
pertama yang dilakukan oleh pasukan
lebah yaitu mengamankan ‘ratu’(pimpinan)
mereka, ratu diungsikan ke tempat yang
aman. Kemudian anak lebah yang masih
kecil(pegawai) juga dipindahkan ke
tempat aman. Sedangkan pasukan
lebah bernama A Tien
ini berbeda dengan
pada umumnya lebah. Walaupun
lebah ini sudah dibesarkan dengan ‘madu
Barito’ tetapi pada saat bahaya dia
menyerahkan ratunya kepada pihak
yang berkepentingan daripada memberi
perlindungan terhadap ratu lebah demi
perkembangan koloni lebah. Cara A Tien
ini dapat menghancurkan koloni lebah
padahal ‘madu Barito’ telah menyehatkan(memperkaya)banyak
orang Singkawang. Banyak orang
Singkawang bergantung hidupnya dengan ‘madu
Barito’ logika seperti ini tidak
dipahami oleh A Tien sungguh sangat
mengecewakan Sang Taipan Prajogo
Pangestu.
Sudah berkali-kali Pak Prajogo meminta
jaminan dari Pak Agustinus tentang
status kelibatan Pak HK sebelum
Beliau memberi dukungan. Beliau ini
menaruh perhatian masalah karakter pada
calon, faktor cek karakter perlu
mendapat perhatian.
Kita tidak tahu pasti status kelibatan
Pak HK seberapa jauh dalam skandal A
Tien. Tetapi menurut satu narasumber
yang layak dipercaya mengatakan Pak
Agustinus pernah mengeluh bahwa ada satu
penyesalan paling besar dalam
kehidupan Beliau selama sebagai advisor
PT Barito. Yaitu ada
beberapa pegawai dipecat tanpa diberi “Sertifikat
pemecatan”. Kalau ini dimaksudkan oleh
Beliau kepada oknum yang terlibat dalam
skandal A Tien, kita harus menaruh
curiga terhadap mereka
yang dekat kubu A Tien.
Sesudah berkali-kali
Pak
Agustinus meloby kepada Pak Prajogo,
akhirnya Pak Prajogo memberi dukungan
kepada Pak HK untuk
maju sebagai cawako Pilkada 2007.
Berbagai kalangan menilai Pak Prajago
memberi dukungannya hanya karena
semata-mata tidak ingin mengecewakan Pak
Agustinus sebagai teman dekat Beliau dan
advisornya. Bukan murni mendukung Pak
HK. Segeralah Pak Agustinus meminta
Fuidy Luckman/Bun Sin Khiong membentuk
Team Sukses HK yang kemudian disebut HK
Centre tersebut yang kemudian
mengantarkan HK menjadi KB 1 C.
Pendanaan
Untuk melakukan
kampanye Pilkada Singkawang paling tidak
memerlukan dana Rp 5 miliar. Semakin
banyak dana tersedia untuk kampanye
semakin besar memiliki peluang untuk
memenangkan pemilihan. Tidak perlu kita
ragukan lagi kampanye memerlukan dana
yang besar.Sekedar contoh menurut
catatan Pilkada 2007 yang lalu,
setiap orang yang mengikut
kampanye Pak HK mendapat uang makan
sebesar Rp30 rb per hari, dan pembawa
rombongan mendapat Rp50rb. Jumlah orang
yang mengikuti Pak HK ada beberapa ratus
orang. Maka kampanye Pak HK selalu
dibanjiri oleh pendukung.
Disamping dana juga perlu suatu system
kordinasi yang teratur untuk menjalankan
kampanye.
Banyak orang bertanya mengapa banyak
Tionghoa KalBar sekarang ingin
menerjunkan diri di bidang birokrasi?
Motivasi apakah yang mendorong
mereka demikian? Apakah ini
fenomena baru ? Mari kita mengobservasi
beberapa hal yang terjadi di sekeliling
kehidupan kita sebelum kita mencoba
menjawab pertanyaan diatas.
Apakah keuntungan yang didapat jika ikut
mencalonkan diri sebagai kandidat untuk
merebut jabatan bidang birokrasi?
Paling tidak ada dua keuntungan:
-Keuntungan
materi secara finansial
Mendapat sumbangan dana dari masyarakat,
sumbangan seperti ini belum ada
peraturan yang jelas mengatur sumbangan
. Maka banyak orang memanfaatkan ‘loophole’ini
untuk mencari keuntungan sebagai
kandidat. Katakan saja seperti sumbangan
yang masuk ke rekening nama pribadi.
Apakah ini legal?
Walaupun dia kalah dalam pemilihan
tetapi menang dalam keuntungan materi.
Sekarang sedang popular kandidat sewaan
yaitu kandidat dibayar oleh lawan
politik tertentu. Supaya kandidat sewaan
ini ikut bermain dalam pemilihan untuk
merebut suara –suara dari etnis tertentu
dengan demikian suara mereka
terpecah,seperti yang terjadi dalam
kasus balon wako Pontianak Harso yang
hari ini menikmati hasilnya dari Balon
Wako sekalipun gagal terpilih . Kita
harus waspada terhadap politisi
komunitas kita yang bertujuan mencari
keuntungan individu dengan cara
mengeksploitasi. Mereka yang ‘kaya’
dieksploitasi dananya yang
miskin dieksploitasi dengan
‘suaranya’. Type politisi ini hanya
mencari keuntungan pribadi bukan demi
komunitas kita. Mereka ini harus kita
awasi !
-Demi
dedikasi
Sejauh ini kita masih belum menemukan
politisi komunitas Tionghoa Singkawang
yang memiliki dedikasi
ingin menunjukkan kepada etnis lain
bahwa kita melakukan hal lebih baik
dibandingkan etnis yang lain di bidang
pemerintahan. Dedikasi seperti itu harus
dalam bentuk aksi bukan dalam semboyan.
Sesudah kita memahami motivasi mengapa
banyak orang ingin ikut menjadi kandidat.
Marilah kita meninjau dari mana mendapat
sumber pendanaan?
Kita meninjau kembali dari Pilkada 2007
yang lalu. Bagaimana Pak HK
bersama team suksesnya mencari
pendanaan untuk Pilkada 2007.
Mari kita melihat dari mana sumber dana
itu datang:
-Group Jawa
Timur(non orang Singkawang)
Mr.Dion Djun,
seorang alumni
SMA, Kolese Santo
Yusup –Malang asal
Pontianak sebagai ketua koordinator fund
raising untuk dana kampanye pak Hasan
Karman. Dari group Jawa Timur ini,
terkumpul dana sekitar Rp3 sampai Rp.4
miliar(Rp.3-4M). Mereka ini adalah
berasal dari
kalangan Almamaternya di SMA, Kolese
Santo Yusup –Malang,terutama
dari faksi Murdaya Poo alumnus angkatan
66 SMA Kolese Santo Yusup.
- Organisasi
Kemasyarakatan Orang Singkawang
Mereka ini
sebagaian besar adalah anggota Permasis.
Hidup di perantauan(Jakarta).
Dana terkumpul sekitar Rp 1 sampai Rp2
miliar(Rp1-Rp2 miliar)
-Group Tanah
Abang di Jakarta
Mereka ini
adalah orang Singbebas yang memiliki
toko di pasar tanah Abang di Jakarta.
Dana terkumpul sekitar Rp1sampai Rp 2
miliar.
-Sumbangan
Individu para Konglomerat
Sumbangan dari para konglomerat
masuk ke rekening pribadi Pak HK. Pak
Prajogo menyumbang ke rekening Pak HK
pribadi sebesar Rp500juta dan Rp400juta
via rekening team sukses dalam dua kali
tranfer. Tidak ada data yang jelas
beberapa sumbangan masuk ke rekening
pribadi Pak HK. Bahkan Pak HK tidak
pernah mengumumkan seberapa besar Beliau
terima dari sumber lain kepada team
suksesnya. Menurut pengakuan HK Centre,
” Soal dana
sumbangan dari Jawa Timur itu tidak
masuk ke dalam kas(account) kami( team
sukses).Yang jelas kami tidak terima
sumbangan dana dari Jawa Timur. Memang,
ada pihak dari Jawa Timur pernah
bertanya tentang hal ini. Saya tidak
tahu apakah dana itu masuk kas mana.
Bisa jadi masuk ke kas perseorangan?”.
Sejauh ini,
belum ada pengumuman tentang berapa
jumlah total dana sumbangan kampanye
dari masyarakat. Sebagai bentuk
pertanggungjawaban kepada masyarakat
Singbebas(kepada donatur) . Mereka
sebagai team sukses HK harusnya
mengumumkan detail penggunaan dana.
Disini letak kelemahan jika kita tidak
memiliki sistem sehingga aturan main
tidak jelas mudah dimanfaatkan oleh
pihak mencari keuntungan pribadi dengan
dalil mereka berjuang untuk
kepentingan komunitas kita. Harus ada
mekanisme mengatur sisa dana kampanye,
misal diinvestasikan kedalam “future
fund” . Dengan future fund untuk membina
dan mempersiapkan calon pemimpin yang
akan datang memiliki vision untuk
membangun Singbebas. Dengan demikian ada
sistem berkesinambungan pembinaan kader.
Membangun
Kota Singkawang dengan sentimen SARA,
langkah menuju kemunduran
Pada malam tanggal 14 Juli 2007 di
Studio 21, Singkawang. Dalam acara
jamuan makan ramah tamah dengan
masyarakat Tionghoa Singkawang &
perantauan yang diadakan oleh pak Hasan
Karman, acara ini dinamai Singkawang
Spektakuler. A Hok(Basuki Tjahaja
Purnama alias Tjung Ban Hok) sebagai
tamu kehormatan dalam acara tersebut.
Pada kesempatan itu A Hok menyampaikan
sebuah pidato dalam bahasa HakFa (dialek
Moi Jan) Ada tiga ratus orang dari
komunitas Tionghoa Singkawang yang hadir
sebelum mereka mendengar
pidato A Hok mereka berharap akan
mendapatkan suatu wawasan baru. Ternyata
pidato A Hok berbau SARA sedikitpun
tidak ada manfaatnya untuk para hadirin.
Dari acara malam ini komunitas Tionghoa
Singkawang sudah gagal meluncurkan calon
pemimpin yang memiliki visi
kedepan yang berbeda
dengan visi dari etnis lain. Masyarakat
mengharapkan produk kita merupakan
produk baru yang belum ada di market.
Ternyata produk kita tidak ada bedanya
dengan produk lain yang ada di Maluku
pada waktu itu. Calon pemimpin yang
hanya mengandalkan SARA!
Bahkan Team Sukses HK menampilkan Chi
Jun Nam sang esksekutor Frans Tshai
sebagai jurkam dalam acara
tersebut dengan bahan kampaye tanpa
makna .
Sejak dini Pak Alex EM sudah sangat
skeptis dan mempunyai keyakinan bahwa
Pak HK bukanlah type pemimpin reformasi
yang memiliki konsep membangun kota
Singkawang dengan berorientasi masalah
ekonomi untuk
mensejahterakan masyarakat. Karena
pemimpin memiliki konsep dan visi tidak
perlu kampanye dengan
memakai sentimen SARA agar terpilih.
Hanya pemimpin tidak berkonsep memakai
metode kuno, SARA untuk mencapai
tujuannya”. Kita ingin ada perubahan di
kota Singkawang ke arah lebih baik kalau
dengan type pemimpin seperti itu akan
merepotkan berbagai pihak di kemudian
hari”, kata Pak Alex. Lanjut
Pak Alex:’maka saya tidak pernah memberi
dukungan kepada Pak
HK dalam bentuk moral ataupun
finansial”. ”Wako yang kita perlukan
yaitu type pemimpin yang dapat membangun
kota Singkawang menjadi tempat aman dan
nyaman untuk ditinggali bukan
pemimpin berwatak barbar,dan
mengunakan hukum rimba terhadap suara
kritis, tidak tahu
mengeliminasi konflik”,tambah Pak Alex.
Bukti sudah sangat menyakinkan kepada
kita jika memiliki pemimpin bermain
dengan isu SARA akan merugikan komunitas
kita. Katakan seperti masalah Patung
Naga, banyak komunitas
Tionghoa Jawai, Sambas, Pemangkat
dan Tebas tidak ada sangkut paut dengan
permasalahan Patung itu harus menanggung
akibatnya. Karena etnis lain menilai
pandangan Hasan Karman sebagai
cermin(mewakili) komunitas
Tionghoa Singbebas. Padahal
kenyataannya tidak demikian, apa
yang dilakukan Pak HK baik itu makalah
tentang Melayu atau mempertahankan
relokasi patung naga itu perbuatan
dirinya sendiri bersama konco-konconya .
Tindakan mereka tidak mendapat
dukungan dari komunitas Tionghoa
Singbebabs secara keseluruhan.
Hari-hari yang
menentukan
Pilkada pada tanggal 15 Nopember 2007,
pada awal Nopember 2007
Pak Hasan Karman tidak yakin
bahwa dia akan terpilih. Karena komunitas
Tionghoa Singkawang
yang tinggal di pasar Singkawang belum
menentukan pilihan, mereka lebih condong
memilih Pak Awang daripada Pak HK. Maka
Pak Aliok dan Pak Syarir(almahum) pergi
ke Singkawang untuk memberi pengarahan.
Awal bulan Oktober
2007 mengetahui banyak warga desa
Lacibuk
tidak terdaftar
sebagai pemilih, ada sekitar seribu
warga. Lacibuk adalah tempat pendukung
Pak HK . Kemudian
pada tanggal 11 Nopember 2007 menemukan
beberapa kasus warga tidak terdaftar
untuk ikut memilih. Tidak jelas penyebab
mengapa banyak warga
yang tidak terdaftar . Apakah kesalahan
dipihak KPUD atau warga sendiri yang
lalai akan kewajibannya? Kesempatan ini
cepat dimanfaatkan oleh Pak HK menjadi
bahan proganda yang menyebarkan isu
banyak warga Tionghoa
tidak terdaftar
karena ada pihak tertentu(Pak
Awang) sengaja tidak
mendaftarkan mereka ikut memilih. Supaya
isu ini diketahui oleh masyarakat maka
diadakan aksi demontrasi ke kantor KPUD
dan kantor Wali Kota Singkawang.
Aksi demo pada tanggal 13
Nopember 2007 dipimpin Chai Ket Khiong,
Pak HK menjanjikan upah Rp 40 juta
sebagai sumbangan untuk Majelis Toa pak
Akhiong. Menurut pengakuan
Pak Akhiong, Pak HK masih belum menepati
janjinya.
Pada saat memerlukan massa untuk
melakukan aksi demo, Pak Bun Sin Khiong
menurunkan massanya dari kawasan
Alianyang , didukung warga
dari kelurahan Sedau,dari desa Lacibuk,
desa Lirang dan Jamthang.
Hasil dari aksi demo inilah sebagai
titik “turning point” dukungan terhadap
Pak HK.
Kekerasan Politik, menjelang Pilkada
2007
Pada pagi hari
menjelang pilkada 2007 di Singkawang.
Bapak Dr.Frans Tshai bersama dengan
temannya makan bubur di pasar Cu
Ma di Singkawang.Ketika mereka sedang
makan bubur ,tiba-tiba ada orang
memanggil nama Pak Frans. Pak Frans
memberi respon suara panggilan tersebut,
kemudian puluhan anak laki-laki(berusia
20an sampai 50an tahun)mengelilingi
pak Frans dan temannya. Terjadilah aksi
barbar, puluhan orang memukul pak Frans
yang berusia 60an. Peristiwa pemukulan
ini berindikasi kekerasan politik.
Karena beberapa hari sebelumnya Pak
Frans sempat mengomentari tentang
kredibilitas Pak HK.
Kelompok pemukul
bayaran yang diketuai oleh Chi Djun
Nam
dkk sudah menyiapkan rencana memukul
Pak Frans di hotel dimana dia tinggal
pada malam sebelumnya. Tetapi sesudah
mempertimbangkan resiko jika memukul Pak
Frans di hotel. Maka mereka ubah rencana.
Sesudah peristiwa pemukulan, Chi Djun
Nam
dkk diamankan ke kawasan perumahan
Ancol -Jakarta.
Rombongan buronan ini tinggal lebih dari
satu minggu di Jakarta kemudian sebagian
mereka pergi ke Ketapang dan sebagian
tinggal di Jakarta. Chi Djun Nam bersembunyi
di Ketapang dibawah kendali Team Sukses
HK di Jakarta .
Masyarakat
menilai team Pak Awang kurang cepat
merespon terhadap kejadian, kalau kasus
kekerasan Pak Frans ini para pelakunya
jatuh ke tangan team Pak Awang
kemungkinan Pak HK batal mengikuti
Pilkada 2007 demi hukum.
Kasus pemukulan
ini sudah sangat jelas bernuansa
kekerasan politik. Kadang-kadang menjadi
renungan bagi masyarakat apabila memberi
dukungan kepada seseorang ternyata orang
tersebut berkarakter tidak lebih baik
daripada seorang preman, tidak jauh lebih
baik dengan Pol Pot. Karena sifat Pol
Pot tidak bisa menerima perbedaan.
Kalau hal ini terjadi, berarti kita
telah gagal memilih pemimpin.
Seperti yang
terjadi hari-hari ini di warung kopi
atau dimana para pendukung HK berada jika
ada yang mengkritik HK maka mereka tak
segan-segan mengultimatum yang
bersangkutan, istilah Mem-fransThsai-kan
merupakan makanan sehari-hari di
Singkawang saat ini.
Sungguh ironis!
Singkawang sayang, Singkawangku malang.
|