Catatan harian Raja San Keu Jong

Bagian Ke dua

21 Juli 2010

Komentar:
Proses Pemilihan

Apabila kita disuruh menentukan pilihan terhadap sesuatu jika tanpa ada petunjuk atau pedoman, kita sering membuat kesalahan dalam mengambil keputusan untuk menentukan pilihan yang terbaik. Kesalahan dalam mengambil keputusan terhadap sesuatu masalah bisa terjadi karena disebabkan kekurangan pengetahuan kita terhadap masalah yang sedang kita hadapi. Akibat dari kesalahan dalam mengambil keputusan dapat merugikan kita dan  orang lain, kesalahan semacam itu sering kali harus dibayar dengan harga mahal.

 

Katakanlah seperti  komunitas Tionghoa Singkawang  dalam mempersiapkan calon wako Singkawang pada Pilkada 2007 yang lalu. Tanpa ada konsep atau mekanisme cara memilih atau seleksi calon  untuk mewakili komunitas Tionghoa Singkawang menghadapi Pilkada. Tanpa ada konsep dapat menyebabkan  pada para pengambil keputusan memungkinkan  mereka membuat kesalahan dalam hal menentukan bakal calon (Balon).  Sehingga hasil pilihan(seleksi) mereka itu dapat merugikan masyarakat Singkawang khususnya komunitas Tionghoa Singkawang. Kalau ini terjadi, siapakah yang harus bertanggungjawab?  Kalau ada pedoman sebagai pegangan dapat meminimalisasi membuat kesalahan atau dapat  memperkecil resiko membuat kesalahan daripada tidak ada pedoman sama sekali.

 

Paling tidak ada dua hal yang  harus ada pedoman/petunjuk  untuk  mereka sebagai pengambil keputusan memilih pada para bakal calon yaitu:

-Persyaratan Calon.

Para calon harus memenuhi beberapa persyaratan dan cek karakter; misal dalam persyaratan kejujuran, pendidikan, tidak terlibat dalam kriminilitas pidana ataupun perdata, amoral dll.

 

-Mekanisme mengontrol calon

 Bagaimana mekanisme mengatur pada calon jika yang bersangkutan terpilih.

 

 Mengapa kita perlu memiliki petunjuk sebagai pedoman dalam pemilihan(seleksi) calon untuk dijadikan kandidat? Jika tanpa ada petunjuk bisa saja  terjadi calon yang kita pilih itu memiliki kelemahan, katakan saja dalam berkarakter yang’tidak jujur’. Tidak jujur ini bisa terjadi dalam hal keuangan, misal menerima dana sumbangan kampanye tanpa dilaporkan(diumumkan) kepada team sukses. Kalau ini terjadi berarti para pemilih(orang-orang yang menentukan siapa yang dicalonkan sebagai kandidat) memilih calon berwatak korupsi atau memanfaatkan posisi dia sebagai kandidat  untuk memperkaya diri dengan cara tidak sah. Memang, dalam hal menyangkut kejujuran memang sulit dinilai namun perlu ada sebuah mekanisme yang dapat mengatur akan hal ini sehingga para calon tidak memiliki peluang berbuat kecurangan (ketidakjujuran), dan calon tidak dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencari keuntungan. Ketidakjujuran  intinya akan merugikan kepercayaan komunitas (para donatur) terhadap kandidat kita.

 

Mari kita melihat lebih dekat mengenai: mengapa penting memiliki mekanisme yang dapat  mengatur pada calon jika pasca terpilih? Betapa berbahayanya apabila orang yang kita promosikan dan kita pilih menjadi kandidat itu kemudian dia sukses tampil sebagai pemenang, sesudah dia duduk di posisi kepemimpinan kemudian dia berubah menjadi Pol Pot ( pemimpin Khmer merah  pertengahan tahun 1970an, jutaan rakyat Kamboja dibantai  oleh rezim Pol Pot. RRT memberi dukungan kepada Rezim Khmer Rouge tetapi gagal mengontrol Pol Pot).

Jika ini terjadi, bagaimana cara menurunkan calon yang mewakili komunitas kita itu? Kita jangan hanya bisa mempromosikan atau menaikkan dia tetapi harus ada mekanisme untuk bisa menurunkannya, itulah prosedur yang diperlukan oleh pada elite Tionghoa Singkawang bagi mereka sebagai pengambil keputusan.

Kita boleh memberi dukungan tetapi jangan sampai dukungan kita itu dipakai sebagai senjata yang dapat membahayakan  kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Yang intinya merugikan berbagai pihak.

 

Ketika para elite Tionghoa Singkawang di Jakarta memutuskan dan  menentukan Balon  wako Singkawang pada Pilkada 2007 yang lalu. Mereka mendiskusikan masalah bursa calon di cafe lounge dan di rumah makan. Akhirnya mereka mengambil keputusan  dan menentukan dua orang kemudian dipilih salah satu dari mereka menjadi cawako Singkawang, yaitu Pak Hasan Karman dan Pak Aliok(Lio Kurniawan). Sebagian dari pendiri Permasis  mendukung Pak Aliok  sebagai calon  wako Singkawang pada Pilkada 2007. Karena pada waktu itu Pak Aliok sebagai ketua Permasis, sedang  masa jayanya Pak Aliok.   Tetapi, Pak Aliok kemudian tereliminir  kemudian kesempatan itu diberikan kepada Pak HK. Ada beberapa alasan(pertimbangan) yang mendasari  kejadian itu.yaitu:

 - Aliok tidak memiliki basis politik yang kuat baik di kepartaian maupun akar rumput massa .

 -Masalah sekolah STIE Mulia.

Resiko apabila Beliau menjadi cawako 2007 karena STIE Mulia sedang menghadapi masalah perizinan pada waktu itu. Pak Aliok  tanpa memiliki izin mengoperasikan STIE Mulia, mengoperasikan sekolah tanpa izin  adalah pembuatan melangggar hukum. Pemerintahan Pak Awang pada waktu itu  sedang  mempermasalahkan  sekolah tidak memiliki izin.  Perizinan Pak Aliok untuk STIE Mulia tersangkut ditingkat provinsi( Banjarmasin), walaupun Pak Aliok mengurus izin di pusat(Jakarta) tidak berhasil. Kekhawatiran jika Pak Aliok dicalonkan sebagai cawako pihak lawan politik akan memberi tekanan masalah perizinan STIE Mulia. Sekolah STIE Mulia adalah sebuah investasi bagi Pak Aliok, mesin untuk mencari donasi .

 

Karena Pak Aliok tereliminir Pak Aliok kemudian banting stir berharap posisi lebih bergensi yaitu Wakil Gubernur Kalbar,namun lagi-lagi Aliok tereliminir dari bursa Kandidat KB 2 karena Pak Cornelis sudah kepincut dengan Bong Hon Sen,disamping itu lobby-lobby Aliok di kalangan Pontianak gagal mendekati team Cornelis.

 

Para elit Singkawang di Permasis, akhirnya memutuskan  kesempatan ini diberikan kepada Pak HK. Pencalonan Pak HK menjadi cawako 2007 bukan berarti tidak menghadapi masalah. Terutama ketika meminta dukungan dari Pak Prajogo Pangestu (Phang Jun Pheng). Konglomerat asal Singbebas ini mempertanyakan keterlibatan Pak HK  bersekongol dengan Seventien Lunardy Alias A Tien  dalam skandal di perusahaan Barito Pacific group pada tahun 80an itu. Pada prinsipnya Pak Prajogo tidak akan memberi dukungan kepada mereka yang pernah merugikan korporasinya dan  merusak reputasi Beliau. Karena apabila memberi dukungan kepada mereka berarti menganggap mereka tidak bersalah kepada Beliau. Mereka yang pernah bersekongol, berkolaborasi dengan  A Tien, dianggap seperti barang yang sudah terkontaminasi dengan bahan berbahaya. Barang tersebut tidak bisa dipakai atau  didaur ulang lagi. Rasa kejengkelan Pak Prajogo dapat kita paham dalam skandal A Tien di perusahaan Barito itu.

 

Dalam kehidupan korporasi harus berprinsip seperti struktur kehidupan koloni lebah. Jika sarang lebah diserang oleh pihak lain (dari luar). Tindakkan pertama yang dilakukan oleh pasukan lebah yaitu mengamankan ‘ratu’(pimpinan) mereka, ratu diungsikan ke tempat yang aman. Kemudian anak lebah yang masih kecil(pegawai) juga dipindahkan ke tempat aman. Sedangkan  pasukan lebah bernama  A Tien ini berbeda  dengan  pada umumnya lebah. Walaupun lebah ini sudah dibesarkan dengan ‘madu Barito’ tetapi pada saat bahaya dia menyerahkan ratunya kepada  pihak yang berkepentingan daripada memberi perlindungan terhadap ratu lebah demi perkembangan koloni lebah. Cara A Tien ini dapat menghancurkan koloni lebah padahal ‘madu Barito’ telah menyehatkan(memperkaya)banyak orang Singkawang. Banyak orang Singkawang bergantung hidupnya dengan ‘madu Barito’ logika seperti ini tidak dipahami oleh A Tien sungguh sangat mengecewakan Sang Taipan Prajogo Pangestu.

 

Sudah berkali-kali Pak Prajogo meminta jaminan dari Pak Agustinus tentang  status kelibatan Pak HK sebelum Beliau memberi dukungan. Beliau ini menaruh perhatian masalah karakter pada calon, faktor cek karakter perlu mendapat perhatian.  Kita tidak tahu pasti status kelibatan Pak HK seberapa jauh dalam skandal A Tien. Tetapi menurut satu narasumber yang layak dipercaya mengatakan Pak Agustinus pernah mengeluh bahwa ada satu penyesalan paling besar  dalam kehidupan Beliau selama sebagai advisor  PT Barito. Yaitu ada beberapa pegawai dipecat tanpa diberi “Sertifikat pemecatan”. Kalau ini dimaksudkan oleh Beliau kepada oknum yang terlibat dalam skandal A Tien, kita harus menaruh curiga terhadap  mereka yang dekat kubu A Tien.

 

Sesudah berkali-kali Pak Agustinus meloby kepada Pak Prajogo, akhirnya Pak Prajogo memberi dukungan kepada  Pak HK untuk maju sebagai cawako Pilkada 2007. Berbagai kalangan menilai Pak Prajago memberi dukungannya hanya karena semata-mata tidak ingin mengecewakan Pak Agustinus sebagai teman dekat Beliau dan advisornya. Bukan murni mendukung Pak HK. Segeralah Pak Agustinus meminta Fuidy Luckman/Bun Sin Khiong membentuk Team Sukses HK yang kemudian disebut HK Centre tersebut yang kemudian mengantarkan HK menjadi KB 1 C.

 

 

 

Pendanaan

Untuk melakukan kampanye Pilkada Singkawang paling tidak memerlukan dana Rp 5 miliar. Semakin banyak dana tersedia untuk kampanye semakin besar memiliki peluang untuk memenangkan pemilihan. Tidak perlu kita ragukan lagi kampanye memerlukan dana yang besar.Sekedar contoh menurut catatan Pilkada 2007 yang lalu, setiap orang yang mengikut kampanye Pak HK mendapat uang makan sebesar Rp30 rb per hari, dan pembawa rombongan mendapat Rp50rb. Jumlah orang yang mengikuti Pak HK ada beberapa ratus orang. Maka kampanye Pak HK selalu dibanjiri oleh pendukung.

Disamping dana juga perlu suatu system kordinasi yang teratur untuk menjalankan kampanye.

 

Banyak orang bertanya mengapa banyak Tionghoa KalBar sekarang ingin menerjunkan diri di bidang birokrasi? Motivasi apakah yang mendorong  mereka demikian? Apakah ini fenomena baru ? Mari kita mengobservasi beberapa hal yang terjadi di sekeliling kehidupan kita sebelum kita mencoba menjawab pertanyaan diatas.

Apakah keuntungan yang didapat jika ikut mencalonkan diri sebagai kandidat untuk merebut jabatan bidang birokrasi?  Paling tidak ada dua keuntungan:

 

-Keuntungan materi secara finansial

Mendapat sumbangan dana dari masyarakat, sumbangan seperti ini belum ada peraturan yang jelas mengatur sumbangan . Maka banyak orang memanfaatkan ‘loophole’ini untuk mencari keuntungan sebagai kandidat. Katakan saja seperti sumbangan yang masuk ke rekening nama pribadi. Apakah ini legal?

Walaupun dia kalah dalam pemilihan tetapi menang dalam keuntungan materi. Sekarang sedang popular kandidat sewaan yaitu kandidat dibayar oleh lawan politik tertentu. Supaya kandidat sewaan ini ikut bermain dalam pemilihan untuk merebut suara –suara dari etnis tertentu dengan demikian suara mereka terpecah,seperti yang terjadi dalam kasus balon wako Pontianak Harso yang hari ini menikmati hasilnya dari Balon Wako sekalipun gagal terpilih . Kita harus waspada terhadap politisi komunitas kita yang bertujuan mencari keuntungan individu dengan cara mengeksploitasi. Mereka yang ‘kaya’ dieksploitasi  dananya yang miskin dieksploitasi  dengan ‘suaranya’. Type politisi ini hanya mencari keuntungan pribadi bukan demi komunitas kita. Mereka ini harus kita awasi !

 

-Demi dedikasi

Sejauh ini kita masih belum menemukan politisi komunitas Tionghoa Singkawang yang  memiliki dedikasi ingin menunjukkan kepada etnis lain bahwa kita melakukan hal lebih baik dibandingkan etnis yang lain di bidang pemerintahan. Dedikasi seperti itu harus dalam bentuk aksi bukan dalam semboyan.

 

Sesudah kita memahami motivasi mengapa banyak orang ingin ikut menjadi kandidat. Marilah kita meninjau dari mana mendapat sumber pendanaan?  Kita meninjau kembali dari Pilkada 2007 yang lalu. Bagaimana Pak HK  bersama team suksesnya mencari pendanaan untuk Pilkada 2007.

Mari kita melihat dari mana sumber dana itu datang:

 -Group Jawa Timur(non orang Singkawang)

Mr.Dion Djun, seorang alumni SMA, Kolese Santo Yusup –Malang asal Pontianak sebagai ketua koordinator fund raising untuk dana kampanye pak Hasan Karman. Dari group Jawa Timur ini, terkumpul dana sekitar Rp3 sampai Rp.4 miliar(Rp.3-4M). Mereka ini adalah berasal dari kalangan Almamaternya di SMA, Kolese Santo Yusup –Malang,terutama dari faksi Murdaya Poo alumnus angkatan 66 SMA Kolese Santo Yusup.

- Organisasi Kemasyarakatan Orang Singkawang

Mereka ini sebagaian besar adalah anggota Permasis. Hidup di perantauan(Jakarta). Dana terkumpul sekitar Rp 1 sampai Rp2 miliar(Rp1-Rp2 miliar)

-Group Tanah Abang di Jakarta

Mereka ini adalah orang Singbebas yang memiliki toko di pasar tanah Abang di Jakarta. Dana terkumpul sekitar Rp1sampai Rp 2 miliar.

-Sumbangan Individu para Konglomerat

Sumbangan dari para konglomerat masuk ke rekening pribadi Pak HK. Pak Prajogo menyumbang ke rekening Pak HK pribadi sebesar Rp500juta dan Rp400juta  via rekening team sukses dalam dua kali tranfer. Tidak ada data yang jelas beberapa sumbangan masuk ke rekening pribadi Pak HK. Bahkan Pak HK tidak pernah mengumumkan seberapa besar Beliau terima dari sumber lain kepada team suksesnya. Menurut pengakuan HK Centre, ” Soal dana sumbangan dari Jawa Timur itu tidak masuk ke dalam kas(account) kami( team sukses).Yang jelas kami tidak terima sumbangan dana dari Jawa Timur. Memang, ada pihak dari Jawa Timur pernah bertanya tentang hal ini. Saya tidak tahu apakah dana itu masuk kas mana. Bisa jadi masuk ke kas perseorangan?”.

 

Sejauh ini, belum ada pengumuman tentang berapa jumlah total dana sumbangan kampanye dari masyarakat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat Singbebas(kepada donatur) . Mereka sebagai team sukses HK harusnya mengumumkan detail penggunaan dana. Disini letak kelemahan jika kita tidak memiliki sistem sehingga aturan main tidak jelas mudah dimanfaatkan oleh pihak mencari keuntungan pribadi dengan dalil mereka berjuang untuk  kepentingan komunitas kita. Harus ada mekanisme mengatur sisa dana kampanye,  misal diinvestasikan kedalam “future fund” . Dengan future fund untuk membina dan mempersiapkan calon pemimpin yang akan datang  memiliki vision untuk membangun Singbebas. Dengan demikian ada sistem berkesinambungan pembinaan kader.

 

Membangun Kota Singkawang dengan sentimen SARA, langkah menuju kemunduran

Pada malam tanggal 14 Juli 2007 di Studio 21, Singkawang. Dalam acara jamuan makan ramah tamah dengan masyarakat Tionghoa Singkawang & perantauan yang diadakan oleh pak Hasan Karman, acara ini dinamai Singkawang Spektakuler. A Hok(Basuki Tjahaja Purnama alias Tjung Ban Hok)  sebagai tamu kehormatan dalam acara tersebut. Pada kesempatan itu A Hok menyampaikan sebuah pidato dalam bahasa HakFa (dialek Moi Jan) Ada tiga ratus orang dari komunitas Tionghoa Singkawang yang hadir  sebelum mereka mendengar pidato A Hok  mereka berharap akan mendapatkan suatu wawasan baru. Ternyata pidato A Hok berbau SARA sedikitpun tidak ada manfaatnya untuk para hadirin. Dari acara malam ini komunitas Tionghoa Singkawang sudah gagal meluncurkan calon pemimpin yang memiliki visi kedepan yang  berbeda dengan visi dari etnis lain. Masyarakat mengharapkan produk kita merupakan produk baru yang belum ada di market. Ternyata produk kita tidak ada bedanya dengan produk lain yang ada di Maluku pada waktu itu. Calon pemimpin yang hanya mengandalkan SARA! 

Bahkan Team Sukses HK menampilkan Chi Jun Nam sang esksekutor Frans Tshai  sebagai jurkam dalam acara tersebut dengan bahan kampaye tanpa makna . 

 

Sejak dini Pak Alex EM sudah sangat skeptis dan mempunyai keyakinan bahwa Pak HK bukanlah type pemimpin reformasi yang memiliki konsep membangun kota Singkawang dengan berorientasi masalah ekonomi untuk  mensejahterakan masyarakat. Karena pemimpin memiliki konsep dan visi tidak perlu  kampanye dengan memakai sentimen SARA agar terpilih. Hanya pemimpin tidak berkonsep memakai metode kuno, SARA untuk mencapai tujuannya”. Kita ingin ada perubahan di kota Singkawang ke arah lebih baik kalau dengan type pemimpin seperti itu akan merepotkan berbagai pihak di kemudian hari”, kata Pak Alex.  Lanjut Pak Alex:’maka saya tidak pernah memberi dukungan kepada  Pak HK dalam bentuk moral ataupun finansial”. ”Wako yang kita perlukan yaitu type pemimpin yang dapat membangun kota Singkawang menjadi tempat aman dan nyaman untuk ditinggali  bukan  pemimpin berwatak barbar,dan mengunakan hukum rimba terhadap suara kritis,  tidak tahu mengeliminasi konflik”,tambah Pak Alex.

 

Bukti sudah sangat menyakinkan kepada kita jika memiliki pemimpin bermain dengan isu SARA akan merugikan komunitas kita. Katakan seperti masalah Patung Naga, banyak komunitas  Tionghoa Jawai, Sambas, Pemangkat dan Tebas tidak ada sangkut paut dengan permasalahan Patung itu harus menanggung akibatnya. Karena etnis lain menilai pandangan Hasan Karman sebagai  cermin(mewakili) komunitas Tionghoa Singbebas. Padahal  kenyataannya tidak demikian, apa yang dilakukan Pak HK baik itu makalah tentang Melayu atau mempertahankan relokasi patung naga itu perbuatan dirinya sendiri bersama konco-konconya . Tindakan mereka tidak  mendapat dukungan dari komunitas Tionghoa Singbebabs secara keseluruhan.

 

Hari-hari yang menentukan

Pilkada pada tanggal 15 Nopember 2007, pada awal Nopember 2007  Pak Hasan Karman tidak yakin bahwa dia akan terpilih. Karena  komunitas Tionghoa Singkawang  yang tinggal di pasar Singkawang belum menentukan pilihan, mereka lebih condong memilih Pak Awang daripada Pak HK. Maka Pak Aliok dan Pak Syarir(almahum) pergi ke Singkawang untuk memberi pengarahan.

 

Awal bulan Oktober 2007 mengetahui banyak warga desa Lacibuk tidak terdaftar sebagai pemilih, ada sekitar seribu warga. Lacibuk adalah tempat pendukung Pak HK . Kemudian  pada tanggal 11 Nopember 2007 menemukan beberapa kasus warga tidak terdaftar untuk ikut memilih. Tidak jelas penyebab mengapa banyak  warga yang tidak terdaftar . Apakah kesalahan dipihak KPUD atau warga sendiri yang lalai akan kewajibannya? Kesempatan ini cepat dimanfaatkan oleh Pak HK menjadi bahan proganda yang menyebarkan isu banyak warga Tionghoa  tidak terdaftar  karena ada pihak  tertentu(Pak Awang)  sengaja tidak mendaftarkan mereka ikut memilih. Supaya isu ini diketahui oleh masyarakat maka diadakan aksi demontrasi ke kantor KPUD dan kantor Wali Kota Singkawang.  Aksi demo pada tanggal 13 Nopember 2007 dipimpin Chai Ket Khiong, Pak HK menjanjikan upah Rp 40 juta sebagai sumbangan untuk Majelis Toa pak  Akhiong. Menurut pengakuan Pak Akhiong, Pak HK masih belum menepati janjinya.

Pada saat memerlukan massa untuk melakukan aksi demo, Pak Bun Sin Khiong menurunkan massanya dari kawasan Alianyang , didukung  warga dari kelurahan Sedau,dari desa Lacibuk, desa Lirang dan Jamthang.

Hasil dari aksi demo inilah sebagai titik “turning point” dukungan terhadap Pak HK.

 

Kekerasan Politik, menjelang Pilkada 2007

Pada pagi hari  menjelang pilkada 2007 di Singkawang. Bapak Dr.Frans Tshai bersama dengan temannya makan  bubur di pasar Cu Ma di Singkawang.Ketika mereka sedang makan bubur ,tiba-tiba ada orang memanggil nama Pak Frans. Pak Frans memberi respon suara panggilan tersebut, kemudian puluhan anak laki-laki(berusia 20an sampai 50an tahun)mengelilingi  pak Frans dan temannya. Terjadilah aksi barbar, puluhan orang memukul pak Frans yang berusia 60an. Peristiwa pemukulan ini berindikasi kekerasan politik. Karena beberapa hari sebelumnya Pak Frans sempat mengomentari tentang kredibilitas Pak HK.

 

Kelompok pemukul bayaran yang diketuai oleh Chi Djun Nam dkk sudah menyiapkan  rencana memukul Pak Frans di hotel dimana dia tinggal pada malam sebelumnya. Tetapi sesudah mempertimbangkan resiko jika memukul Pak Frans di hotel. Maka mereka ubah rencana. Sesudah peristiwa pemukulan, Chi Djun Nam dkk  diamankan ke kawasan perumahan Ancol -Jakarta. Rombongan buronan ini tinggal lebih dari satu minggu di Jakarta kemudian sebagian mereka pergi ke Ketapang dan sebagian tinggal di Jakarta. Chi Djun Nam bersembunyi di Ketapang dibawah kendali Team Sukses HK di Jakarta .

 

Masyarakat menilai team Pak Awang kurang cepat merespon terhadap kejadian, kalau kasus kekerasan Pak Frans  ini  para pelakunya jatuh ke tangan team Pak Awang kemungkinan Pak HK batal mengikuti Pilkada 2007 demi hukum.

 

Kasus pemukulan ini sudah sangat jelas bernuansa kekerasan politik. Kadang-kadang menjadi renungan bagi masyarakat apabila memberi dukungan kepada seseorang ternyata orang tersebut berkarakter tidak lebih baik daripada seorang preman, tidak jauh lebih baik dengan Pol Pot. Karena sifat Pol Pot tidak bisa menerima perbedaan.  Kalau hal ini terjadi, berarti kita telah gagal memilih pemimpin.

Seperti yang terjadi hari-hari ini di warung kopi atau dimana para pendukung HK berada jika ada yang mengkritik HK maka mereka tak segan-segan mengultimatum yang bersangkutan, istilah Mem-fransThsai-kan merupakan makanan sehari-hari di Singkawang saat ini.

Sungguh ironis! Singkawang sayang, Singkawangku malang.  

(BERSAMBUNG ke 3….)

CintaSingkawang, 21 juli 2010