|
Selama
lima tahun
terakhir
ini kita
telah
banyak
menyaksikan
seputar
peristiwa
bagaimana
Komunitas
Tionghoa
Singkawang
berpartisipasi
di
bidang
birokrasi,
berpartisipasi
di
bidang
politik.
Perubahan
ini
merupakan
hasil
dari
reformasi
di
negara
kita
untuk
memberikan
kesempatan
luas
kepada
seluruh
rakyat Indonesia untuk
mengambil
bagian
dalam
pemerintahan.
Komunitas
Tionghoa
Singkawang
sebagai
komponen
dari
bangsa Indonesia
tentu
saja
berhak
berperan
serta
dalam
kesempatan
ini.
Keikutsertaan
di
bidang
pemerintahan
akan
memberi
peluang
kepada
kita
memberikan
kontribusi,
kemampuan
dan
talenta
kita
dalam
pembangunan
negara
kita
khusus
di
kawasan
Singbebas.
Sebagai
pendatang”baru”
bermain
di
bidang
birokrasi
tentu
banyak
tantangan
dan
hal-hal
yang
harus
kita
pelajari.dengan
perkataan
lain
komunitas
Tionghoa
Singkawang
masih
harus
banyak
belajar.
Melalui
edisi
kali ini
CintaSingkawang
akan
menyajikan
sebuah
catatan
yang
dinamai
Catatan
harian
Raja San
Keu Jong
merupakan
catatan
yang
sangat
penting
bagi
masyarakat
Singkawang.
Catatan
harian
ini
berupa
cerita
bersambung
yang
terdiri
dari
tiga
bagian:
Bagian
pertama:Awal
Sebuah
Perjalanan.
Bagian
kedua:
Perjuangan
Si Raja
San Keu
Jong.
Bagian
ketiga:Nasib
Kerajaan
San Keu
Jong.
Bagian
pertama
dari
catatan
ini kita
akan
meninjau
kembali
beberapa
peristiwa
yang
telah
terjadi
di
kota
Singkawang,
sebagian
dari
bahan
catatan
ini
merupakan
arsip
CintaSingkawang.
Bagian
kedua
dari
catatan
ini
berupa
proses
pembentukan
raja,
pendukung,
pendanaan.
Bagian
kedua
ini akan
disajikan
dengan
bahan
baru
hasil
investigasi
Team
CintaSingkawang
yang
tidak
banyak
diketahui
oleh
masyarakat
umum.
Bagian
terakhir,
kita
akan
melihat
kendala
dan
kesulitan
apa yang
akan
dihadapi
oleh
kerajaan
San Keu
Jong ini.
Selamat
membaca.
Bagian
Pertama(1):
Awal
Sebuah
Perjalanan
-Mercure
Gate
sebuah
konspirasi,
awal
dari
sebuah
perjalanan
menuju
politik
di era
reformasi.
Menurut
cerita
koran
Equator
pada
akhir
Oktober
2005
Miss
Anita
Tjung
datang
ke
kantor
harian
Equator
untuk
memberitahukan
kepada
wartawan
bahwa
dia
memiliki
affair
dengan
wali
kota Singkawang,
Pak
Awang
Ishak.
Untuk
menyakinkan
wartawan
dia
menunjukkan
isi sms
mereka
sebagai
insan
yang
sedang
jatuh
cinta
itu.
Menurut
pengakuan
Miss
Anita
alasan
yang
mendorong
dia
menceritakan
hal ini
kepada
wartawan
karena
dia
tidak
dapat
terima
dengan
perkataan
dari
nyonya
Awang
yang
tidak
ramah
itu.
Masyarakat
menyebutnya
Love
affair
ini
sebagai
perselingkuhan
Ai-An(
Awang
Ishak-Anita),
sedang
istilah
politik
disebut
“Mercure
Gate”.
Roman
kedua
insan
ini
berlangsung
di kamar
hotel
Mercure,
Jakarta.
Sesudah
berita
ini
beredar
di
masyarakat,
video
duet
antara
Pak
Awang
dengan
Miss
Anita
cepat
beredar
di dunia
maya.
Sebelum
kita
mengikuti
cerita
ini
lebih
jauh
marilah
kita
melihat
kembali
arsip
CintaSingkawang,
siapakah
aktor di
belakang
Miss
Anita
Tjung
yang
sudah
diprogram
oleh
pihak
yang
sedang
merencanakan
untuk
menjatuhkan
Pak
Awang.
Miss
Anita
Tjung
adalah
anak
gadis
berwajah
manis
memiliki
kulit
halus
putih
bersih,
lahir
dan
dibesarkan
desa
Kopisan,
Kelurahan
Sedau.
Terakhir
sebelum
terjun
kedunianya
tinggal
di
kawasan
seberang
Kantor
DPU
Singkawang.
Disamping
memiliki
fisik
baik,
Miss
Anita
juga
memiliki
talenta
melayani.
Dengan
kemampuan
yang
dimilikinya,
dia
bekerja
pada
salah
satu warung
kopi di
Saliung.
Selama
dia
bekerja
sebagai
pelayan
di
warung
kopi itu
dia
sempat
jatuh
cinta
dan
menjalin
hubungan
intim
dengan
Mr
Budiman
.Mr
Budiman
adalah
seorang
pengusaha
dalam
bisnis
jual
beli
motor
bekas
Legenda
Motor
namanya
di
Jl.Sama-sama
Singkawang.
Hasil
dari
buah
cinta
mereka
itu
sempat
dikaruniahi
seorang
anak.
Ketika
anaknya
lahir,
Mr.Budiman
sempat
menolak
dan
tidak
mau
mengakui
bahwa
itu anak
biologisnya.
Maka
Miss
Anita
sebelum
anaknya
lahir,
telah
memperhitungkan
kemungkinan
Mr.Budiman
tidak
akan mau
mengakui
anaknya.
Untuk
itu,
Miss
Anita
telah
mempersiapkan
senjatanya
yaitu
uji DNA.
Ketika
Mr.Budiman
menolak
terus
dengan
berbagai
argumentasi
gombalnya,
Miss
Anita
mengancam
dan
meminta
uji DNA
untuk
membuktikan
Mr.Budiman
sebagai
ayah
biologis
dari
anaknya.
Miss
Anita
seperti
pada
umumnya
wanita
ingin
disayangi
dan
dimanja
oleh
suami
tetapi
dia
tidak
ingin
terus
dimadu
oleh
Mr.Budiman.
”Kalau
dimadu
terus,
berarti
harus
berbagi
cinta
dengan
orang
lain”
kata
Miss
Anita.
Melihat
tidak
ada
peluang
untuk
mendapat
kebahagiaan
dalam
hubungan
dengan
Mr.Budiman,
akhirnya
dia
meminta
berpisah
dengan
Mr.Budiman.
Miss
Anita
sangat
kecewa
dengan
Mr.Budiman
sebagai
seorang
lelaki
yang
pernah
dia
cintai
juga
orang
yang menghancurkan
kehidupannya.
Dari
pengalaman
kehidupan
rumah
tangga
yang
tidak
bahagia
itu,
kemudian
dia
mengembangkan
kariernya
sebagai
wanita
menemani
kaum
adam.
Selama
Miss
Anita
menekuni
bisnis
melayani
dan
menemani
kaum
lelaki
dia
banyak
bergaul
dengan
para
pejabat
dan
pengusaha.
Kefasihan
Miss
Anita
berbahasa
Melayu
Sambas
membuat
pergaulan
Miss
Anita
dengan
Pak
Awang
Ishak
sangat
dekat
sehingga
terjadi
love
affair
ai-an.
Pada
saat itu
Pak
Hasan
Karman
bersahabat
dekat
dengan
Mr.
Budiman.
Karena
mereka
memiliki
perjalanan
yang
sama
tetapi
mengejar
tujuannya
berbeda
satu
sama
lain.
Pak
Hasan
Karman
mengejar
posisi
wali
kota
Singkawang,
sedang
Pak
Budiman
mengejar
posisi
sebagai
anggota
DPRD
Singkawang(
Kans
maximum
ketua
DPRD).
Tidak
menutup
kemungkinan
Video
Clip
yang
direkam
dengan
HP oleh
Miss
Anita
itu
sudah
dipesan
oleh
pihak
yang
berkepentingan,
bahkan
bagaimana
Miss
Anita
berakting
di
publik
media
massa (koran)
dan
hilangnya
dia dari
masyarakat
sudah
diatur.
Peredaran
video
clip di
dunia
maya
cepat
dilakukan
dan
dipromosikan
oleh
Hendy
Lie di
dunia
maya,
anak
tetangga
Pak HK
yang
tinggal
di jalan
Niaga no
30
Singkawang.
Seperti
apa yang
sudah
diketahui
oleh
masyarakat
dunia
maya
Hendy
Lie
sebagai
security
guardnya
Pak
Hasan
Karman
di dunia
maya,
bahkan
setiap
netter
asal
Singkawang
dikirimi
video
clip ini.
Tujuan
dari
Mercure
Gate
yaitu:Memberi
-Dampak
Politik:Pemerintahan
Pak
Awang
mendapat
tekanan
dari
Fraksi
DPRD
Singkawang.
Bukan
hanya
isu
politik
yang
berperanan
juga isu
rasisme
diikut
sertakan.
Karena
jika
wali kota dilengserkan atau diberhentikan akan
terjadi
penggantian
wali
kota.
Maka
para
anggota
Dewan
terangsang
dengan
isu
rasisme
mereka
inilah
kerja
keras
untuk
melengserkan
Pak
Awang.
-Dampak
Ekonomi:
Kerugian
ekonomi
yang
harus
diderita
Pak
Awang.
Menurut
informasi
tidak
resmi
Pak
Awang
menghabiskan
dana
sekitar
Rp 3
Miliar
untuk
menyelamatkan
posisinya
dari
tekanan
politik
dari
kasus
ini.
Dengan
demikian
dana
persiapan
untuk
kampanyenya
berkurang,
karena
habis
dipakai
untuk
mengamankan
posisi
Beliau
dari
masalah
Mercure
Gate .
-Dampak
Moral:
Hanya
masalah
moral
kemudian
menjadi
tidak
efektif.Mereka
yang
design
Mercure
Gate ini
gagal
kampanye
masalah
moral
dalam
hal ini.
Karena
masyarakat
beropini
bahwa
peristiwa
itu
terjadi
bukan di
kantor
dan juga
bukan
jam
kantor.
Ini
menyangkut
masalah
kehidupan
private
Pak
Awang
sendiri
bukan
walikota
Singkawang.
Bahkan
banyak
kaum
lelaki
Singkawang
merasa
bangga
dan
memuji
Pak
Awang
;’he is
a real
man!
Seperti
Tiger
Wood,
dia
dipuji
oleh
kaum
lelaki
di
China
;’he is
a real
man’.,semakin
sebuah
kasus
disorot
maka
kemudian
akan
berubah
menjadi
basi.
Miss
Anita
ini
bukan
wanita
yang
mudah
dihadapi,dia
selalu
memiliki
persiapan
dan
perhitungan
kepada
pihak
tertentu
yang
pernah
memanfaatkan
jasanya
untuk
menghadapi
Pak
Awang.
Masalahnya
tinggal
berapa
harga
yang
cocok
harus
dibayar
kepada
Miss
Anita
untuk
kesaksiannya.
Hal ini
bukan
rahasia,
hanya
masalah
harga.
Kalau
Miss
Anita
simpan
rahasia
ini
terlalu
lama
kelak
menjadi
tidak
berharga,
seharusnya
dia tahu
kapan
rahasianya
dijual
dengan
harga
yang
tinggi.
Kita
tunggu
saja
pasti
ada
Mercuri
Gate
chapter
two
dalam
kesaksian
Miss
Anita
ini yang
menarik
untuk
masyarakat.
Mercuri
Gate
yang
menghancurkan
reputasi
dan
materi
Pak
Awang,
momentum
itu
sangat
menguntungkan
Pak
Hasan
Karman
sebagai
cawako.
Karena
keterlibatan
Pak
Awang
dalam
kasus
ini merugikan
Beliau
dari
segi
politik,materi,moral
sehingga
daya
saing
Pak
Awang
akan
berkurang
dalam
Pilkada
2007.
Team
sukses
Pak
Awang
telah
membuat
kesalahan
menganalisa
kasus
Ai-An,
menurut
mereka
kasus
ini
dirancang
oleh
warga
yang
tinggal
di
Inggeris.
Padahal
ini
sebuah
konspirasi
ada
kemungkinan
merupakan
hasil
karya “biak
Singkawang-Jakarta”
untuk
melumpuhkan
kekuatan
Pak
Awang
dari
segi
politik
dan
ekonomi.
-Kudeta
terjadi
ditubuh
Partai
PIB
Kota
Singkawang,
awal
sebuah
kasus
kekerasan
politik
Tionghoa
pertama
di
Singkawang.
Menurut
hasil
pemilu
2004
Partai
PIB
kota
Singkawang
memenangkan
dua
kursi
DPRD
Singkawang.
Ketika
itu
partai
PIB
mendapat
dukungan
dari
komunitas
Tionghoa
Singkawang
terutama
dari
mereka
yang
tinggal
di
pinggiran
kota.
Terpilih
Pak
Bong Wui
Khong
dan Pak
Liu Min
Jam
sebagai
anggota
DPRD
Singkawang.
Partai
PIB Kota
Singkawang
mendapat
dukungan
dari
masyarakat
maka
para
pengurus
partai
PIB Kota
Singkawang
akan
mencalonkan
calon
mereka
untuk
Pilkada
2007.
Pada 19
Maret
2006,
ada
sekelompok
orang
yang
terdiri
dari 15
orang
mendatangi
kantor
cabang
PIB di
jalan
Tsjafioedin
Nomor
27,
Singkawang.
Kedatangan
kelompok
ini
untuk
memukul
Liu Min
Jam,
Bong Sen
Fui,
Abui dan
Bong Ka
Khong,adik
kandung
Bong Wui
Khong.
Pada
saat
peristiwa
pemukulan
itu
terjadi
Bong Wui
Khong
tidak
berada
di
tempat
kejadian.,
para
korban
mengalami
babak
belur
dihajar
belasan
orang.Para
penyerang
yang
bertindak
brutal
adalah
para
kriminal
yang
menamakan
diri
mereka
sebagai
PC PPIB
Kota
Singkawang.
Tujuan
kelompok
ini
untuk
menyingkirkan
kelompok
Bong Wui
Khong
kemudian
menciptakan
ruang
bagi
langkah
mulus
Pak
Hasan
Karman
agar
dapat
menjadi
cawako
untuk
Pilkada
2007
dengan
cara
menghabisi
secara
politis
rivalnya
di tubuh
PIB
terutama
dari BWK
dkk
.Dalam
peristiwa
yang
terjadi
di dalam
tubuh
Partai
PIB
kota
Singkawang
ada 4
hal yang
menarik
untuk
kita
amati
yaitu:
1.Surat
rekomendasi
dari
Partai
PIB di
pusat,
Jakarta
untuk
Pak
Hasan
Karman.
Dengan
hanya
mengandalkan
selembar
surat
rekomandasi
dari
pusat
tentu
saja
kelompok
Bong Wui
Khong(BWK)
tidak
akan
menyerahkan
begitu
saja
menurut
kemauan
Pak HK.
Menurut
kelompok
BWK
Pak HK
tidak
pernah
ikut
membesarkan
Partai,
bahkan
tidak
pernah
hadir
dalam
kegiatan
partai.
Dengan
pengertian
Pak HK
tidak
pernah
bekerja
untuk
partai
hanya
menerima
hasilnya
saja.
2.Karena
kelompok
BWK
menolak
kemauan
Pak HK
yang
sesuai
dengan
rekomendasi
dari
Pusat, terjadi
penyerangan
terhadap
kelompok
BWK di
kantor
cabang
PIB di
jalan
Tsjafioedin
Nomor
27.
Peristiwa
ini merupakan
kekerasan
politik
pertama
di
Singkawang
pada
jaman
reformasi
berupa
bentuk
tindakan
kriminal.
3.Menjelang
Konfercab
Partai
PIB Kota
Singkawang,
tanggal
27 Maret
2006
sekitar
jam
21.00 di
Hotel
Prapatan
Singkawang,
jajaran
pengurus
Partai
PIB Kota
Singkawang
dipanggil
oleh
perutusan
Partai
PIB
Pusat
yang
terdiri
dari
Taufan (Wakil
Sekjen),
Trenggono
Chuandra
dan
Hasan
Karman
yang
sekarang
calon
Wali
Kota
Singkawang.
Jajaran
pengurus
Partai
PIB Kota
Singkawang
memperkirakan
akan
mendapat
pengarahan
/
bimbingan
dari
perutusan
pusat
partai
untuk
pelaksanaan
Konfercab
Partai
PIB
keesokan
harinya
(tanggal
28 Maret
2006).
Taufan
dan
Trenggono
memerintahkan
jajaran
pengurus
Partai
PIB Kota
Singkawang
mengundurkan
diri!
Ketika
perdebatan
panas
memuncak,
Hasan
Karman
menyatakan
kata “pamungkas”:
“Tidak
ada
kawan
abadi
kecuali
kepentingan!.”
Rupanya
inilah
watak
asli
seorang
Hasan
Karman...
yang
belakangan
diketahui
bahwa
dia
berambisi
mencalonkan
diri
dalam
Pilkada
Kota
Singkawang.
Dapat
dipastikan,
andai
kata dia
benar-benar
terpilih
menjadi
Wali
Kota
Singkawang,
semua
sponsor
dan
pendukungnya
akan
dibabat
habis
demi
kepentingan
pribadinya.
Kesaksian
lengkap
Bapak
Muhammad
Hasan
dapat
Anda
baca
disini
4.Pada
tanggl
28 Maret
2006,
DPN PIB
pusat
mengutus
Pak HK
untuk
melaksanakan
konfercab
ulang di
Hotel
Mahkota
dengan
dihadiri
peserta
100
persen
orang
baru.
Sudah
sangat
jelas
ambisi
Pak HK
untuk
menguasai
Partai
PIB
kota
Singkawang
untuk
memakai
perahu
Partai
PIB
supaya
dapat
mencalonkan
diri
sebagai
wali kota. Pada ahli fisul mengingatkan
kepada
kita
apabila
kita
tidak
berhati
hati
terhadap
ambisi
kita,
kita
mudah
menjerumus
diri
untuk
melakukan
hal yang
tidak
terpuji
bahkan
melakukan
kriminal
demi
untuk
mengejar
cita-cita
.
-Pemilihan
Ketua
Forum
Komunikasi
Etnis
Tionghoa
(FOKET)
Organisasi massa ini kurang jelas peranannya di dalam
masyarakat.
Siapa
anggotanya?
RT/AD
pun
tidak
jelas.
Pada
tanggal 17 September 2006 FOKET
mengundang
para
kumpulan
yayasan
pemakaman
orang
Tionghoa
dan
ketua
pengurus
Kelenteng
yang ada
seluruh
kota
Singkawang
untuk
menyaksikan
hasil
pemilihan
ketua
FOKET
mereka.
Di
hadapan
para
ketua
yayasan
pemakaman
dan
pengurus
Kelenteng
FOKET
mengumumkan
hasil
pemilihan
ketua
FOKET
baru.
Katanya
ada tiga
kompetitor
dalam
pemilihan
yaitu;
Budiman,
Kenny
Kumala
dan Bong
Cin Nen.
Budiman
terpilih
ketua
FOKET.
Pak
Hasan
Karman
bersedia
menyumbang
Rp 10
juta
kepada
FOKET.
Dalam
pemilihan
itu
keluar
sebagai
pemenangnya
Budiman
dengan
mendapat
suara
terbanyak
101
suara,
Kenny
Kumala
mendapat
37 suara
dan Bong
Cin Nen
mendapat
13 suara.
Ini
merupakan
hasil
rekayasa
Pak HK
untuk
mengangkat
Budiman
sebagai
ketua
FOKET.
Tujuan
Pak HK
supaya
Budiman
bisa
terpilih
menjadi
ketua
FOKET
karena:
-Supaya
dia
dapat
memanfaatkan
Budiman
untuk
mendekati
komunitas
Tionghoa
khususnya
mereka
yang
tinggal
dipinggiran
kota.
-Kelak
pada
saat dia
mencalonkan
diri
sebagai
wako
Singkawang
mendapat
dukungan
dari
FOKET.
Pengetahuan
dan
pengalaman
pergaulan
Budiman
dengan
komunitas
Tionghoa
di
kawasan
Singkawang
Selatan
sangat
diperlukan
oleh Pak
HK.
Tanpa
ada
Budiman
untuk
memperkenalkan
dia
kepada
komunitas
Tionghoa
di
Singkawang
Selatan
tentu
saja dia
akan
mengalami
kesulitan
untuk
mendekati
mereka.
Karena
Pak
Hasan
Karman
tinggal
di Jakarta tidak akan mengenal tokoh-tokoh
masyarakat
Tionghoa
di
pedesaan.
Budiman
bertindak
sebagai
guide
tournya
Pak HK
untuk
membawa
Pak HK
mengeliling
desa,
dari
desa ke
desa
diwilayah
Singkawang
Selatan.
Di
wilayah
Singkawang
Selatan,
kelurahan
Sedau
adalah
kelurahan
yang
terpadat
jumlah
populasi(30an
ribu
jiwa).
Mayoritas
penduduknya
beretnis
Tionghoa.
Kelurahan
ini
terdiri
atas
beberapa
desa
Sakkok,
Kopisan,
Saliung
Jamthang
, La
cibuk,
Atapkong,
Lirang,
Lirang
Proyek,
dan
Bokmakong.
Bagi
kandidat
cawako
jika
ingin
terpilih
harus
sanggup
menguasai
kelurahan
ini.
Maka
tidak
heran
kelurahan
Sedau
menjadi
indikator
untuk
mengukur
kekuatan
para
kandidat,
kandidat
mendapat
dukungan
dari
masyarakat
kelurahan
ini
merupakan
kandidat
favourite.
-Karakteristik
Tionghoa
dan
sejarahnya
di
kelurahan
Sedau:
Menurut
sejarah
komunitas
Tionghoa
Singbebas
desa
Jamthang
adalah
desa
tertua
wilayah
Singbebas.
Jamthang
adalah
desa
tempat
pendaratan
pada
nenek
moyang
orang
Tionghoa
Singbebas
pada dua
ratusan
tahun
yang
lalu.Dari
desa
Jamthang
via
Lacibuk
terus
kepedalaman
Singbebas,
terutama
tujuan
ke
kota
Montrado.
Kota
Maontrado
lebih
dulu
berdiri
kemudian
baru ada kota Singkawang. Dari desa
Jamthang
kemudian
desa
yang
lain
berkembang
sesuai
dengan
kebutuhan
,seperti
desa
Atapkong
sebagai
desa
perikanan(nelayan),
Saliung
sebagai
desa
memproduksi
tempayan.
Desa
Jamthang
memproduksi
garam,
jaman
dulu
cara
membuat
garam
dengan
cara
memasak
air laut
sampai
mengendap
kemudian
endapan
itu
dijamur
sampai
kering.
Untuk
membuat
ikan
pedak
memerlukan
bahan
ikan,
garam
dan
tempayan.
Pedak
ikan
hasil
produksi
ini
dijual
untuk
masyarakat
pedalaman
terutama
untuk
daerah
pertambangan
emas.
Ada
dua
group
Tionghoa
yang
tinggal
di
kelurahan
Sedau.
Group
pertama,
kita
namakan
saja
sebagai
warga “asli”
mereka
ini
memiliki
sejarah
nenek
moyangnya
sudah
turun
temurun
tinggal
di
kelurahan
Sedau.
Pada
umumnya
mereka
ini
tinggal
di pasar
desa(
Sakkok,Saliung,
Jamthang,
Atapkong)
atau
dipesisir
jalan
raya
Pontianak
-Singkawang.Dari
pergaulan
sosial
group
ini
lebih
aktif
berinteraksi
dengan
etnis
Melayu,
lebih
fasih
berbahasa
Melayu
Sambas
maupun
berbahasa
Indonesia.
Pada
umumnya
mereka
memiliki
pendidikan
yang
lebih
baik
dari
kelompok
kedua.
Group
kedua,
mereka
ini
penduduk
“pendatang”.
Mereka
adalah
“ex
pengungsi”,
pengungsi
dari
pedalaman
Singbebas.
Pada
tahun
1967
terjadi
menggusuran
orang
Tionghoa
dari
pedalaman
Kalbar.
Para pengungsi ditempatkan di Kelurahan Sedau.
Mereka
ini
menepati
desa
Kopisan,
sebagian
Saliung
dalam,
Lacibuk,
Lirang
Proyek
dan
Lirang
Dalam.
Disebabkan
pengalaman
hidup
sendiri
atau
pengalaman
keluarganya
pada
peristiwa
tahun
1967
mereka
ini
tidak
percaya
komunitas
yang
lain
dapat
memperlakukan
mereka
dengan
adil.
Maka
mereka
ini
mudah
dimanipulasi
oleh
pihak
yang
ingin “suaranya”
dengan
etnisme
dalam
arti
sempit.
Cerita
republik
Lanfong,
Lo Thai
Pak, Lo
Fong Fak
menjadi
cerita
yang
menarik
bagi
mereka.
Karena
mereka
tidak
memiliki
wawasan
luas.
Untuk
memperluas
wawasan
pada
generasi
muda
dari
group
ini
dengan
melalui
pendidikan.
Maka
sejauh
ini
sudah
ada
usaha
dari
masyarakat
kelurahan
Sedau
untuk
menaruh
perhatian
masalah
pendidikan
mereka.
Ketika
kampanye
Pilkada
2007,
Lacibuk
,Lirang
dan
Kopisan
merupakan
basisnya
Pak HK.
(BERSAMBUNG
Ke dua…….)
|