Celoteh Budiman di Kampung-kampung

15 Oktober 2009
Komentar:

Orang yang sedang dilanda frustrasi sering merasa kesepian, ingin mengeluarkan perasaan yang sedang bergejolak dari lubuk hatinya. Pada saat seperti itu dia memerlukan orang yang bersedia mendengar cerita tentang kekecewaan yang sedang dia alami. Hal seperti ini juga dialami oleh Pak Budiman Chang alias Chang Cin Fuk, yang juga dikenal sebagai salah salah satu pemain rentenir di Singkawang. Pada saat ini, Pak Budiman sedang mengalami frustrasi terhadap perlakuan yang tidak adil oleh  Pak Hasan Karman. Sebelum pilkada yang lalu, Pak Budiman ini  sebagai sahabat intim, sebagai partner melakukan “monkey bisnis”. Sesudah Pak Hasan Karman terpilih menjadi wako Singkawang, pelan-pelan Pak Budiman ditinggalkan oleh Pak Hasan Karman. Perasaan  frustrasi yang dialami oleh Pak Budiman dapat  dimaklumi, Pak Budiman ini diumpamakan sebagai petani mangga yang rajin. Setiap hari rajin mengurus dan memupuki tanamannya, tetapi ketika pohon mangga berbuah dia tidak diberi kesempatan untuk  menikmati buahnya. Jangankan menikmati buah mangga, mencium aroma buah mangga pun  tidak diberi kesempatan!

 

Sesudah Pak Hasan Karman terpilih, apa yang didapat Pak Budiman? Mau jadi Caleg tidak diberi kesempatan bahkan dihalang-halangi, apalagi mendapat kemurahan proyek juga tidak pernah diberi. Tetapi , sebaliknya Pak Budiman sering dijadikan bumper jika Pak Hasan Karman menghadapi tekanan. Ketika Pak Hasan sedang menghadapi kasus Patung Naga. Pak Budiman  adalah tokoh yang bersedia menjadi bumper bahkan menjadi korban kekerasan, pernah mendapat hadiah sebuah jab mentah dari tokoh Dayak pada saat menjadi pembela Pak Hasan Karman. Pengorbanan Pak Budiman untuk Pak Hasan Karman terlalu banyak.

Padahal  Pak Budiman sudah pernah diperingatkan oleh Pak Hasan Karman akan konsekwensi bersahabat dengan Beliau. "Tidak ada kawan abadi kecuali Kepentingan" ucapan Pak Hasan Karman tersebut dihadapan Pak Muhammad Hasan, mantan Sekretaris DPC PIB Singkawang di hotel Prapatan beberapan tahun yang lalu.

Kalau Pak Budiman ditinggalkan oleh sahabatnya, sudah jelas sekali bahwa Pak Budiman itu tidak memiliki nilai “Kepentingan”, atau “dikorbankan”.

 

Sebelum menjelang pemilihan legislatif yang baru lalu, sebuah pertemuan antara Pak Hasan Karman dengan Pak Aliok,Pak Akhiong, Pak Nursantio(Asan) di Jakarta.Pertemuan tersebut disaksikan Pak Agustinus, senior di Permasis. Untuk merancang  sebuah strategi untuk mendomisi DPRD Singkawang yang memihak incumbent dengan target  Aliok sebagai Ketua DPRD . Strategi ini disebut strategi “Target 15”, karena menurut sasaran strategi ini harus menguasai 15 anggota legislatif. Ketika Pak Hasan Karman menyampaikan daftar nama yang akan disponsori menjadi calon anggota legislatif, pihak Jakarta menyatakan keberatan jika Pak Budiman disertakan sebagai team “Target 15”. Menurut penilaian dari pihak Jakarta bahwa Pak Budiman tidak layak diikutkan kedalam team tersebut, karena banyak terlibat masalah  moral isu dll. Supaya mendapat dukungan dari Jakarta, Pak Hasan Karman tidak ada  pilihan lain  kecuali memenuhi persyaratan yang diminta oleh pihak Jakarta, Pak Budiman akhirnya dijadikan “tumbal” untuk  kekuasaan.

 

Untuk menyanyikan lagu frustasi, tidak mungkin ada pendengar di kota. Maka itu, Pak Budiman pergi ke kampung, dari kampung ke kampung untuk menjual lagu frustrasinya.

Lagu frustrasi yang dinyanyikan oleh Pak Budiman "Ming Thien Wei Ken Hao" (Tomorrow will be better), mungkin hari esok anda akan menjadi Pejabat tinggi di Kalbar.

 

CintaSingkawang,15 Oktober 2009