|
Orang
yang sedang dilanda frustrasi sering
merasa kesepian, ingin mengeluarkan
perasaan yang sedang bergejolak dari
lubuk hatinya. Pada saat seperti itu dia
memerlukan orang yang bersedia mendengar
cerita tentang kekecewaan yang
sedang dia alami. Hal seperti ini juga
dialami oleh Pak Budiman Chang alias
Chang Cin Fuk, yang juga dikenal sebagai
salah salah satu pemain rentenir di
Singkawang. Pada saat ini, Pak Budiman
sedang mengalami frustrasi terhadap
perlakuan yang tidak adil oleh Pak
Hasan Karman. Sebelum pilkada yang lalu,
Pak Budiman ini sebagai
sahabat intim, sebagai partner melakukan
“monkey bisnis”. Sesudah Pak Hasan
Karman terpilih menjadi wako Singkawang,
pelan-pelan Pak Budiman ditinggalkan
oleh Pak Hasan Karman. Perasaan
frustrasi yang dialami oleh Pak
Budiman dapat dimaklumi,
Pak Budiman ini diumpamakan sebagai
petani mangga yang rajin. Setiap hari
rajin mengurus dan memupuki tanamannya,
tetapi ketika pohon mangga berbuah dia
tidak diberi kesempatan untuk menikmati
buahnya. Jangankan menikmati buah mangga,
mencium aroma buah mangga pun
tidak diberi kesempatan!
Sesudah
Pak Hasan Karman terpilih, apa yang
didapat Pak Budiman? Mau jadi Caleg
tidak diberi kesempatan bahkan
dihalang-halangi, apalagi mendapat
kemurahan proyek juga tidak pernah
diberi. Tetapi , sebaliknya Pak
Budiman sering dijadikan bumper jika Pak
Hasan Karman menghadapi tekanan. Ketika Pak Hasan sedang menghadapi kasus
Patung Naga. Pak Budiman adalah
tokoh yang bersedia menjadi bumper
bahkan menjadi korban kekerasan, pernah
mendapat hadiah sebuah jab mentah dari
tokoh Dayak pada saat menjadi pembela
Pak Hasan Karman. Pengorbanan Pak
Budiman untuk Pak Hasan Karman terlalu
banyak.
Padahal
Pak Budiman sudah pernah
diperingatkan oleh Pak Hasan Karman akan
konsekwensi bersahabat dengan Beliau.
"Tidak ada kawan abadi kecuali
Kepentingan" ucapan Pak Hasan Karman
tersebut dihadapan Pak
Muhammad Hasan,
mantan Sekretaris
DPC PIB Singkawang di hotel Prapatan
beberapan tahun yang lalu.
Kalau Pak Budiman ditinggalkan oleh
sahabatnya, sudah jelas sekali bahwa Pak
Budiman itu tidak memiliki nilai “Kepentingan”,
atau “dikorbankan”.
Sebelum menjelang pemilihan legislatif
yang baru lalu, sebuah pertemuan antara
Pak Hasan Karman dengan Pak Aliok,Pak
Akhiong, Pak Nursantio(Asan) di Jakarta.Pertemuan
tersebut disaksikan Pak Agustinus,
senior di Permasis. Untuk merancang sebuah strategi
untuk mendomisi DPRD Singkawang yang
memihak incumbent dengan target
Aliok sebagai Ketua DPRD . Strategi ini
disebut strategi “Target 15”, karena
menurut sasaran strategi ini harus
menguasai 15 anggota legislatif. Ketika
Pak Hasan Karman menyampaikan daftar
nama yang akan disponsori menjadi calon
anggota legislatif, pihak Jakarta
menyatakan keberatan jika Pak Budiman
disertakan sebagai team “Target 15”.
Menurut penilaian dari pihak Jakarta bahwa Pak Budiman tidak layak diikutkan
kedalam team tersebut, karena banyak
terlibat masalah moral isu dll.
Supaya mendapat dukungan dari Jakarta,
Pak Hasan Karman tidak ada pilihan lain
kecuali memenuhi persyaratan yang
diminta oleh pihak Jakarta, Pak Budiman
akhirnya dijadikan “tumbal” untuk kekuasaan.
Untuk menyanyikan lagu frustasi, tidak
mungkin ada pendengar di
kota. Maka itu,
Pak Budiman pergi ke kampung, dari kampung
ke kampung untuk menjual lagu
frustrasinya.
Lagu frustrasi yang dinyanyikan
oleh Pak Budiman "Ming
Thien Wei Ken Hao" (Tomorrow will be
better), mungkin hari esok anda akan
menjadi Pejabat tinggi di Kalbar.
|