Janto Tjahjadin mendirikan Ormas baru di Singkawang
- Eksodus dari PERMASIS

25 januari 2015

Komentar:
Diawal tahun 2015 ini, ada satu tanda perkembangan yang penting bagi komunitas Tionghoa Singkawang. Yakni: Ketua PERMASIS, Bapak Janto Tjahjadin atau panggilan akrab “Pak Jau” bersama teamnya khusus datang ke Singkawang. Kedatangan mereka dengan membawa sebuah rencana( gagasan) mau mendirikan sebuah ormas yang khusus bergerak dibidang budaya dan seni. Dengan pengertian ormas ini hanya melayani urusan budaya dan seni, milik masyarakat Tionghoa Singkawang. Cap Go Meh akan dijadikan agenda oleh ormas budaya dan seni ini. Tentu saja, karena Cap Go Meh merupakan bagian dari budaya Tionghoa Singkawang

Sebelum ormas yang bergerak dibidang budaya dan seni ini terbentuk, Pak Jau bersama teamnya datang ke Singkawang untuk mencari fakta; ingin mengetahui tanggapan dan respon dari komunitas Tionghoa Singkawang terhadap gagasan mereka. Masyarakat Tionghoa Singkawang memberi respon positif terhadap gagasan Pak Jau itu. Respon seperti itu, tidak perlu kita ragukan. Karena di kota Singkawang merupakan gudangnya para penggemar Cap Go Meh.

Untuk menunjukkan keseriusan, Pak Jau dan bersama teamnya membentuk panitia CGM Singkawang 2015 yang terdiri atas:Pak Jau sebagai ketua umum, seketaris Fumentius, wakil ketua Pak Alex Em, bendahara Pak Senti Tanoro (Chau Sen)

Belum jelas nama resmi untuk ormas budaya dan seni yang akan didirikan oleh Pak Jau dan teamnya. Kalau kita melihat lebih dekat personil dari team Pak Jau ini terdiri atas para anggota PERMASIS yang berasosiasi dengan Pak Aliok, alias pengikut Aliokisme. Tidak bisa disangkal lagi, dari hari ke hari semakin banyak pada anggota Permasis merasa organisasi mereka kehilangan momentum sebagai organisasi sosial dan budaya. Semakin sedikit para anggota yang hadir dalam pertemuan. Kesuksesan Pak Aliok dalam menjalankan misi sosial tanpa PERMASIS telah menjadi “teladan” bagi anggota Permasis lain. Eksodus dari PERMASIS akan terjadi apabila PERMASIS tidak mengadakan perubahan struktur dan organisasi orientasi mulai sekarang. Budaya kesenioran yang suka memberi “dikte”, senior yang mengaku dirinya sebagai “broker” konglomerat . Intervensi broker ini sering membuat organisasi tidak mengambil kebijakan yang tepat guna dalam menjalankan amanat organisasi.

Pengalaman yang dialami Pak Jau tidak banyak berbeda dengan Pak Aliok ketika menjabat sebagai ketua Permasis. Sebagai pejabat ketua organisasi tetapi mereka merasa peranan mereka bukan sebagai ketua karena kebijakan organisasi ditentukan oleh senior.
Pak Jau dan teamnya sedang merencanakan suatu rencana kedepan, sesudah dia tidak menjabat sebagai ketua PERMASIS dia akan memimpin suatu organisasi budaya dan seni yang mereka cita citakan. Dari hari ke hari group Aliokisme semakin berkembang besar, membentuk group group yang bergerak dibidang masing masing. Tidak berbeda seperti dalam dunia komersial, membentuk anak perusahaan yang bergerak bidang industri spesifik untuk menguasai market. Sedangkan Permasis akan bertambah banyak meja kosong, hanya tinggal segelintir orang seperti Pak Fuidy dll yang setia mendengarkan cerita Pak Agustinus Aryawan tentang kejayaannya di era tahun 70an dan 80an doeloe.



CintaSingkawang,25 januari 2015