Membangun Komunitas Tionghoa Singbebas 

 Sebuah renungan akhir tahun2010 ”   

30 Desember 2010
Renungan:

Hasil studi  ilmuwan terhadap monyet Jepang di pulau sebelah selatan Jepang Koshima pada tahun 1948 menarik untuk disimak. Monyet Jepang di Koshima  mencuci ubi jalar, kentang sebelum memakannya. Menyortir gandum dari pasir. Koloni Monyet tersebut memiliki perilaku seperti itu bukan karena kecerdasan berdasarkan pembawaan keturunan. Pada tahun 1953 ada seekor monyet betina  berusia satu setengah tahun yang bernama Imo. Dia adalah monyet yang pertama mulai mencuci ubi jalar untuk membersihkan tanah yang melekat pada ubi jalar. Si jenius Imo juga mengembangkan metode untuk menyortir gandum dari pasir. Imo menemukan bahwa memakan butir gandum yang tercampur dengan pasir sangat sulit. Imo membawa campuran gandum dan pasir dijatuhkan dalam air memungkinkan gandum mengapung sedang bagian  pasir tenggelam, dengan metode ini mudah memisahkan biji gandum dari pasir. Sejak itu banyak monyet muda berlatih dari metode hasil penemuan Imo hingga sampai saat ini perilaku seperti itu diturunkan kepada generasi penerusnya. Penemuan Imo merupakan suatu cara beradaptasi terhadap  perubahan lingkungan supaya koloni mereka bisa survive menghadapi tantangan baru, perubahan dunia.

Bagaimana dengan komunitas kita, Tionghoa Singbebas? Kita percaya komunitas Tionghoa Singbebas memiliki banyak Imo didalam komunitas kita? Adalah orang yang memiliki gagasan untuk memajukan komunitas kita untuk menghadapi suatu tantangan  baru  dalam perubahan lingkungan hidup kita. Tanpa ada pemikiran ke depan komunitas kita  tidak akan berkembang bahkan tersekat dalam kelompoknya. Kalau ini terjadi akan mengurangi kemampuan dan potensi kita membangun daerah Singbebas.

Sebelum kita melihat permasalahan ini lebih jauh, CintaSingkawang ingin mengajak pembaca membuka arsip sejarah komunitas kita dalam periode tahun 1950-1965.

Pada periode tahun 1950-1965 ada tiga arah pemikiran politik komunitas kita, yaitu:

-Mengikuti aliran komunis,berkiblat ke RRT.

Pengikut mereka sering disebut pengikut Fung Phai (aliran Merah), mereka yang mendapat pendidikan sekolah tionghoa yang beraliran dengan RRT. Banyak pemuda merasa dirinya “Bui Ket Fun Ci”(patriot demi negara), mereka ini terpanggil karena propaganda, banyak diantara mereka yang lahir di Singbebas kemudian hijrah ke Tiongkok. Mereka ini banyak yang kecewa ketika tiba di daratan Tiongkok karena tidak sesuai dengan propaganda seperti yang mereka dapatkan ketika masih belajar di Singbebas (Indonesia) pada waktu itu. Mereka mau pulang ke Singbebas tetapi mereka merasa malu dan takut diketawai oleh tetangga dan kesulitan transportasi ketika itu. Banyak diantara mereka kemudian menjadi korban ketika jaman revolusi kebudayaan (1966-1967). Karena mereka ini dianggap sebagai orang asing, pendatang baru.

 -Mengikuti aliran Nasionalis, pro Taiwan.

Pengikut aliran Nasionalis disebut  Lam Phai ( aliran Biru ) Sebagian dari mereka mendapat pendidikan sekolah tionghoa yang berorientasi nasoanalis Cina yang berkedudukan di Taiwan. Ada bagian kecil dari mereka pergi ke Taiwan untuk melanjutkan studi mereka disana.

 -Mereka bukan Biru atau Merah.

Mereka yang tidak mengikuti aliran Biru ataupun Merah. Karena mereka merasa tidak cocok dengan idelogi kedua aliran tersebut. Mereka memilih mengikuti pemerintah Indonesia karena kelompok ini lebih menaruh perhatian masalah lokal yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan mereka. Kelompok ini berprinsip “dimana engkau hidup disitulah negara kamu”, mereka lebih cepat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungan hidup mereka. Mereka memilih  kewarganegaraan Republik Indonesia secara sukarela, mengirim generasi muda mereka ke sekolah-sekolah yang berbasis bahasa Indonesia.

Pada masa itu, rasa kebencian dan kecurigaan antara kedua aliran tersebut sangat terasa dalam kehidupan bermasyarakat.Suami istri bermusuhan gara gara perbedaan idelogi, orangtua dengan anak dan saudara bisa bermusuhan karena perbedaan padangan idelogi. Dalam kehidupan sehari-hari berbagai kegiatan kehidupan bermasyarakat terganggu misalnya dalam transaksi perdagangan hanya terjadi dengan lingkungan sesama aliran. Aliran Merah tidak mau belanja ke toko yang pemiliknya bukan sealiran dengan mereka begitu juga terjadi pada aliran yang lain.

Masa boleh berganti dan  waktu boleh beruhah, belum tentu ada perubahan pola berpikir komunitas kita. Apabila kita memperhatikan lebih teliti sudah ada gejala kearah “penyekatan” berdasarkan; organisasi sosial yang mereka gabung, agama dll. Jika ini dibiarkan terjadi tanpa ada kebijakan penyuluhan terhadap komunitas kita tidak mustahil akan terjadi seperti periode “kebodohan” pada tahun 1950-1965 itu.

Persaingan antar organisasi sosial boleh terjadi tetapi harus dalam bentuk persaingan program kerja yang berorientasi mencerdaskan komunitas Tionghoa Singbebas. Sejauh ini organisasi sosial kita belum ada indikator yang menyakinkan kita bahwa mereka menginvestasikan proyek-proyek yang bersifat jangka pendek atau panjang yang bermanfaat untuk komunitas kita. Selain kesibukan mereka mencari pengaruh dari masyarakat untuk kepentingan organisasi, kepentingan kelompok, kepentingan politik.

Betapa sedih jika kita melihat sebuah kenyataan dalam kehidupan pada komunitas Tionghoa Singbebas di daerah  Singbebas. Mereka ini masih banyak tidak memiliki wawasan yang memadai atau suatu standard  minimum sebagai persyaratan masyarakat berpredikat “tidak tertinggal”. Sesuatu yang mereka tidak tahu, mereka boleh belajar. Tetapi hal ini terjadi karena tidak ada sistem penyuluhan ke arah pembinaan komunitas kita.  Sebaliknya yang sering disebut sebagai “tokoh” mayarakat kita atau “politisi” kita melakukan hal-hal yang berorientasi pada kepentingan diri sendiri. Mereka ini lebih tertarik bagaimana cara membodohkan komunitas kita.

Jika komunitas kita merasa Pak HK gagal  membangun kota Singkawang, membangun tidak seperti apa yang kita inginkan. Buat apa kita mempertahankan Beliau untuk lima tahun lagi,seperti apa yang sedang dinyanyikan oleh Bong Li Thiam itu? Selain Bong Li Thiam, para  pendukung Pak HK yang lain  mengemis kepada masyarakat Singkawang;"kasih kesempatan kepada HK lima tahun lagi". Sesuatu yang tidak berfungsi seperti apa yang diharapkan harus diganti yang lain, ini adalah  intisari pemikiran masyarakat yang menginginkan kemajuan. Jika Pak Lio Kurniawan( Aliok),   Pak Fuidy Luckman( Bun Sin Khiong), atau Pak Iwan Gunawan dan nama-nama lain yang belakangan santer disebut kandidat wako mendatang  bisa menawarkan programnya membangun kota Singkawang yang lebih baik. Tentu saja kita harus memilih mereka, kita memilih program bukan memilih orang. Dengan  demikian setiap individu yang ingin menjadi pemimpin kota Singkawang harus  berkompetisi diantara mereka, sehingga bisa menghasilkan seorang pemimpin yang kredibel dan  berkualitas dengan produknya yang bermutu bagi komunitas kita. Kunci bagi mereka yang bersaing;” yang menguasai banyak resources dan memanfaatkan resource” akan keluar sebagai  pemenang dalam suatu persaingan.

Jabatan wako tidak ada bedanya  seperti jabatan lain dalam dunia komersil selalu menghadapi “challenger” untuk menguji posisi tersebut, itu merupakan proses demokrasi.

Sejauh ini Pak HK masih belum siap menghadapi suatu kenyataan bahwa posisi dia sebagai wako akan menhadapi sebuah ujian pada tahun 2012 nanti. Kenyataan ini sangat jelas terbaca dari para pendukung Pak HK melobby ke belbagai pihak yang memiliki kemungkinan sebagai rival dalam kompetisi Pilkada 2012 nanti. Para pelobby memakai iklan “Pun thong nyin mian cie ” (berilah muka kepada orang Tionghoa).  Apakah Pak HK  mewakili komunitas Tionghoa Singkawang sebagai posisi wako? Sedikitpun kita tidak meragukan bahwa Pak HK adalah keturunan Tionghoa Singkawang, ini adalah fakta tidak akan berubah untuk selama-lamanya.Walaupun Pak HK sendiri sudah beberapa kali mengatakan kepada komunitas Dayak dia bukan keturunan “Cin”murni.

Kalau ada pihak berpandangan bahwa Pak HK mewakili komunitas kita dalam memimpin kota Singkawang.  Pandangan seperti itu perlu kita uji kebenaran berdasarkan bukti-bukti selama tiga tahun Pak HK memimpin kota Singkawang. Jika Beliau mewakili komunitas kita; apa yang telah dilakukan beliau untuk memajukan komunitas kita? Selama Pak HK memimpin kota Singkawang memang telah terjadi kemudahan bagi konco-konconya menguasai tanah-tanah rakyat jelata. Sehingga menciptakan perbedaan kelas sosial baru dalam kehidupan komunitas kita. Banyak pihak menduga program sister city “Jong Moi( Yangmei)”dengan kota Singkawang merupakan bagian dari agenda tersembunyi untuk menguasai tanah-tanah di sekitar  kota Singkawang. Menurut rumour sedang beredar dikalangan komunitas kita bahwa konco HK Seventien Lunardy alias Atien akan mendirikan sebuah perusahaan “Sin Moi Corn Plantation”(perkebunan jagung Singkawang Jong Moi) di YangMei,Taiwan. Kemudian perusahaan ini akan investasi ke kota Singkawang, meminta pemkot Singkawang membebaskan tanah untuk perkebunan jagung. Perusahaan tersebut tercatat di Taiwan, seakan-akan perusahaan asing (Taiwan) tetapi miliknya Atien supaya mudah mendapat pembebasan tanah. Mendirikan perusahaan di luar negeri tidaklah sulit karena banayak negara berlaku lunak terhadap perusahaan yang belum berusia lima tahun dalam pengoperasian, kemudahan pajak dll.

Sejauh ini selama Pak HK sebagai pemimpin kota Singkawang belum ada proyek yang menyakinkan untuk membangun dan memajukan  komunitas kita yang tertinggal.Seandainya Pak HK yakin bahwa dirinya mewakili komunitas kita seharusnya Beliau melakukan hal-hal yang dapat memajukan komunitas kita. Dia bukan mewakili komunitas kita.

Ada bagian kecil dari komunitas kita diindoktrinasi menjadi ekstrim rasisme untuk tujuan mempertahankan kekuasaan Pak HK. Dari komunitas kita siapa saja yang mau challenge posisi Pak HK akan dicap bukan Tionghoa Singkawang. Kita memilih program yang ditawarkan oleh kompetitor bukan memilih orang.   Tidak adil seandainya  Pak Lio Kurniawan( Aliok), Pak Fuidy Luckman( Bun Sin Khiong) atau Pak Iwan Gunawan memiliki program membangun kota Singkawang yang lebih bagus  sudah seharusnya mereka diberi kesempatan juga. Katakanlahlah kesulitan dalam  masalah  air leding, listrik yang sedang komunitas kita hadapi, jika ada solusi baru dari tokoh-tokoh yang akan muncul seyogianya kita melihat opsi yang mereka tawarkan. Daripada harus ikut Pak HK mandi gaya koboi lima tahun lagi dan mimpi bandara spektakuler  mendingan kita say goodbye kepada Pak HK.

Kita memang memiliki banyak Imo dan memiliki banyak potensi yang dapat dipergunakan untuk  memajukan komunitas Tionghoa Singbebas. Tetapi Imo Singkawang adalah homo sapiens ("wise man" or "knowing man") lebih mengutamakan kepentingan diri atau kepentingan kelompok dari kepentingan komunitas secara luas. Banyak yang ingin disebut “tokoh masyarakat” atau “Thai Ko (big brother)” tetapi tidak mau melakukan sesuatu. Reputasi tidak pernah diciptakan dengan cara duduk dikantor, reputasi tercipta karena usaha.

Masih banyak hal yang harus kita lakukan sebelum komunitas lain memberi hormat kepada kita atas kemampuan dan sukses kita memajukan komunitas kita didaerah Singbebas.


 
CintaSingkawang, 30 Desember 2010