SK Wali Kota Singkawang nomor 138

01 Desember 2008
Komentar:

Kita tidak tahu pasti dengan pertimbangan apa sehingga wako kita,Pak Hasan Karman merasa perlu dan mendesak untuk  menerbitkan SK Wali Kota Singkawang nomor 138 tahun 2008. Surat Keputusan tersebut tentang pembentukan tim pendataan orang keturunan asing yang telah bermukim secara turun termurun di Indonesia yang tidak memiliki dokumen kewarganegaraan RI, dokumen kependudukan (akta kelahiran, KK dan KTP). Dalam SK tersebut  Wali Kota Singkawang telah menunjuk Permasis (Perhimpunan Masyarakat Singkawang dan Sekitarnya)dan IKI(Institut Kewarganegaraan Indonesia )sebagai  team pendataan.

Kita juga tidak tahu pasti berapa jumlah populasi yang dimaksudkan oleh wako kita “orang keturunan asing yang telah bermukim secara turun termurun yang tidak memiliki dokumen kewarganegaraan RI”dimasyarakat Singkawang. Menurut data yang Cinta terima dari beberapa tokoh masyarakat Singkawang mengatakan jumlah populasi tidak memiliki dokumen tersebut tidak sampai 1% dari total populasi Singkawang 175 ribu jiwa itu. Jika angka itu benar dan  menjadi alasan terbit SK no.138,itu adalah alasan yang sangat tidak relevan dan tidak perlu.Karena SK tersebut hanya menyangkut(menguntungkan) segelintir orang dari etnis Tionghoa saja,ini akan menimbulkan kecemburuan sosial.

Reaksi keras dari berbagai kalangan masyarakat Singkawang terhadap SK tersbut, dapat kita pahami.Karena masyarakat percaya dampak dari SK tersebut akan menimbulkan  bentrok kepentingan  antar etnis dalam masyarakat Singkawang, sehingga hal ini dapat menghambat pembentukan  kepentingan bersama dalam kontek kehidupan masyarakat  multiras . Dari  segi kepentingan politik Pak wako sendiri, sudah  sangat jelas implikasinya SK tersebut hanya sebagai alat proganda untuk mendongkrak popularitas para caleg yang disponsori Pak Hasan Karman.

 

SK nomor 138 itu dapat merusak reputasi Permasis dimasyarakat  Singkawang.Rasa kecurigaan masyarakat terhadap ormas yang bergerak dibidang sosial-budaya ini sudah tidak bisa dihindari.Karena Permasis telah terlibat dalam masalah politik dan urusan birokrasi di Singkawang. Walaupun biaya administrasi pengurusan dokumen ditanggung oleh Permasis.Tetapi,justru masyarakat berpendapat Permasis memanfaatkan SK (isu kewarganegaraan) dan sentimen ras ini sebagai bahan proganda untuk mencari dana. Akibat dari krisis ekonomi global,harga saham berkurang nilainya.Fenomena ini dapat mempengaruhi nilai “dana  abadi” yang dimiliki Permasis.Donasi  dari para sponsornya akan berkurang dimasa akan datang karena sebagian besar dari mereka ini mengalami krisis likuiditas. Jika ini terjadi,dukungan Permasis terhadap pemerintahan  Pak Hasan Karman akan berkurang.Untuk boost pengumpulan dana,maka harus ada isu yang dapat dijual kepada masyarakat. Maka dipilihnya isu seperti tertera pada SK tersebut. Karena isu  yang mengandung sentimen kewarganegaraan merupakan isu yang masih memiliki harga jual dipasar  domestik maupun internasional .

Dalam klarifikasi yang diberikan oleh Pak wako kita didepan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Singkawang mengatakan” Kami hanya menindaklanjuti perintah pemerintah pusat. Ini bukan hanya Singkawang saja, tapi seluruh Indonesia” kata Pak Hasan Karman.Tetapi melibatkan dua organisasi non pemerintah,ini menandakan pengetahuan Pak Hasan Karman terhadap  menejemen birokrasi sangat minin.Jika kelak terjadi sesuatu dalam pelaksanaan SK tersebut dikemudian hari,sukar diminta pertanggungjawaban organisasi non pemerintah,misal organisasi tersebut tidak aktip(bubar) lagi.Resikonya,Pak Hasan Karman harus tanggung sendiri dikemudian hari(ingat,kebijakan mantan pejabat sering dipersalahkan kemudian hari). Karena Pak Hasan Karman tidak menyediakan safety net untuk melindungi diri sendiri dalam hal ini.

Menurut komentar pemerhati masalah sosial orang Tionghoa Singkawang yang tinggal di Bandung,Pak Herry Chung mengatakan”Sekarang yang dibutuhkan oleh masyarakat Singkawang yaitu lapangan(isu ekonomi) pekerjaan untuk ribuan penganggur.Bukan masalah kewarganegaraan.Jika Permasis ingin membantu,seharusnya menyediakan kredit murah untuk masyarakat miskin sebagai modal kerja.Saya percaya,Permasis dapat melakukan hal tersebut  sebagai klub para milioner Singkawang diperantauan.Saya salut kalau mereka dapat melakukan hal tersebut.”dengan nada agak menentang Pak Herry menutup teleponnya untuk mengakhiri pembicaraan dengan Cinta.

 

“Gagasan  SK no.138 tidak berbeda dengan gagasan teguh patung naga,seperti seorang gadis tidak memiliki sex appeal,cowok melihatnya tidak bernafsu.Begitu juga kedua gagasan tersebut sangat tidak meninbulkan rasa dukungan(nafsu) dari masyarakat Singkawang terhadap kebijakan pemerintah Pak Hasan Karman” kata seorang pengusaha sukses yang tinggal di Cengkareng meminta Cinta jangan mencantumkan namanya.”Pak Hasan Karman dikelilingi orang –orang tidak memiliki wawasan dan konsep sehingga menghasilkan gagasan yang tidak produktif”tambahnya.

 

SK no 138 ditinjau dari Numerology orang Tionghoa Singkawang,isi seperti namanya.Satu(jit) sering kita artikan “paling”,38 menurut slang singkawang sam pat(bodoh).Jadi,138(jit sam pat) artinya “paling bodoh”.Apapun maknanya dari SK no138 itu tetapi masyarakat Singkawang merasa kehadiran SK tersebut tidak memberi makna yang berarti untuk membangun kota Singkawang spektakuler.

 

CintaSingkawang,01 Desember 2008