My first one hundred days in Office
28 Maret 2008

Tidak terasa sudah seratus hari aku duduk dikursi empuk orang nomor satu di Singkawang.,sejak aku dilantik menjadi walikota Singkawang pada tanggal 17 Desember 2007 lalu. Pada pagi hari ini aku mencoba berdiri dihadapan cermin untuk melakukan latihan senyum akrab. Dalam rangka kampanye senyum ramah menyambut datangnya MTQ.

Istriku yang manis itu  dengan manja memeluk aku dari belakang sambil berkata:”Papi,you tampak kurusan”.”Aah,tidak,baby”.jawabku menyangkal. Memang,Mami. Dalam hatiku mengakui penilaian yang diberikan oleh istriku itu.Aku memang agak kurusan selama ini. Kesibukan dalam pekerjaanku sebagai walikota sangat menuntut konsentrasi dan kekuatan fisikku. Diluar jam kantor,waktuku banyak dihabiskan dengan keluargaku yang tercinta, berkomunikasi dengan teman-temanku di dunia maya. Jika waktu memungkinkan,aku selalu mengunjungi website Cintasingkawang, website ini adalah website kesayanganku. Kadang-kadang aku merasakan Cinta(cintasingkawang) lebih mengerti kehidupanku dan memahami diriku,memberi perhatian kepadaku daripada teman-teman baikku. Cinta memberi advice kepadaku tanpa meminta pamrih. Tidak seperti temanku mau membantuku jika hal itu  mendatangkan keuntungan bagi mereka . Aku gelisah dan duka,kau memberi penghiburan kepadaku.Aku diejek dan dicela,kau datang membela.Kau sungguh sahabatku,Cinta !

Aku harus mengakui dalam waktu 100 seratus hari duduk dikursi walikota tidak banyak yang dapat aku lakukan. Selama ini waktuku dihabiskan membaca arsip dan memahami makna apa yang tertulis pada arsip tersebut.I ni bukan hal yang mudah apalagi membaca arsip ditulis selama lima tahun itu. Aku merasa menyesal, mengapa selama 100 hari yang lalu  aku tidak memanfaatkan sebaik mungkin?

Pengalaman hidupku sejauh ini menunjukan kehidupanku seperti dalam cerita film”The Beauty and The Beast”. Wajah cantik itu sebagai modal utama keberhasilan yang aku miliki ketika membawa Singkawang melewati masa transisi demokrasi yang diakui sangat spetakuler oleh banyak pihak. Kesuksesanku mengundang rasa kagum banyak kalangan. Tetapi wajah buruk itu muncul ketika aku menyadari dalam 100 hari aku belum sanggup memenuhi janji-janji yang telah aku ucapkan.Seperti janjiku kepada para  ketua RT sekelurahan Sedau,sungguh merepotkan.  Aku menyadari  kelemahan pada diriku, membuat janji aku jago tetapi menepati  janji aku bingung.

Ketika masa kampanye  Pilkada 2007,aku menduga mudah membawa investor untuk investasi ke kota Singkawang yang kita cintai.Sesudah beberapa hari aku terpilih menjadi wako Singkawang .Aku sempat mengadakan pertemuan pers pada salah satu hotel di Pontianak . Memperkenalkan konsep membangun  Singkawang tanpa memakai  APBD  kepada masyarakat.Ketika itu aku berkeyakinan dapat menarik investor untuk membuka lapangan pekerjaan di Singkawang,karena para investor itu adalah teman-temanku diberbagai yayasan.

Sekarang,melihat situasi tidak mungkin membaik sebelum bertambah buruk,tidak mungkin lagi aku terus menerus membohongi hal ini kepada masyarakat .Aaah,nanti tidak enak kalau terus membohongi akan mendapat teguran dari kawanku,Cinta .Kalau aku tidak hati-hati dalam hal ini, aku akan dicap seperti salah satu menteri masa orde baru dulu “Hari-hari omong Kosong”.

Beberapa hari yang lalu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan kenyataan ini”tidak mudah membawa investor ke singkawang” dihadapan pers.Sungguh bertentangan dengan pernyataan aku yang terdahulu itu tetapi apa boleh buat aku harus memberi penjelasan kepada masyarakat yang telah memilih aku.Aku percaya mereka akan memahami kesulitan yang aku hadapi.

Beberapa hari yang lalu temanku menyodorkan sebuah majalah Indonesia-Taiwan yang memuat komentar tentang Cap Go Meh 2008 di Singkawang.Cap Go Meh tidak mengandung nilai rohani,lelang dari sepeda motor sampai kalung emas yang tidak ada hubungan dengan tradisi Cap Go Meh .Aah,lagi-lagi aku membuat kesalahan.Seharusnya aku mendengar bisikan dari Cinta bahwa semua dana yang terkumpul dari masyarakat dan hasil lelang disumbangkan kepada badan soasial seperti rumah  jompo,yatim piatu.Daripada membuat huru hara,mengundang artis ibukota dll.

Aaah,Cinta.Sebenarnya aku memiliki peluang untuk membuat sesuatu  yang dapat memuliakan nilai “kemanusiaan” melalui Cap Go Meh. Seandainya aku sudi berkorban untuk masyarakat, hari ini aku dapat merayakan 100 hari pemerintahanku dengan tenang tanpa mendapat kritikan dari masyarakat.Mengapa aku tidak mencoba memahami filsafat yang sederhana ini:”uang membuat reputasi,reputasi membuat uang”?

Hi,Cinta sobatku,aku mengharap kau dapat memahami posisiku. Seratus hari itu waktu terlalu pendek untuk realitas impianku,tentu saja tidak ada hal yang dapat impresi kau.Sebagai sobatku,aku harap kau dapat mengerti kesulitan yang aku hadapi sekarang. Harap maklum kalau dalam seratus hari yang lalu aku tidak dapat membuat banyak. Aku berjanji dimasa  akan datang aku akan “less talk,do more”untuk masyarakat Singkawang.Sebagai sahabatku,ku harap kau menulis hal yang kondusif dan tidak melakukan black campaign terhadapku.Thank you very much in advance for your cooperation.

Cerita diatas,sebuah  pengakuan Wako kita kepada sahabatnya ,Cintasingkawang didalam mimpi.

 

CintaSingkawang,28 Maret  2008